Seorang pengamat politik dari Hebrew University, Gayil Talshir, mengatakan bahwa lawatan ini dapat mendorong kembali popularitas Netanyahu di tengah isu korupsi menjelang pemilihan umum.
Talshir mengatakan bahwa kedua pemimpin negara ini tidak hanya bersahabat, tapi juga menggunakan pendekatan populis yang mirip ketika menghadapi kegaduhan dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir, mereka adalah rekan dalam ideologi, dan ideologi itu adalah populis, ideologi konservatif yang mengatakan bahwa para elite liberal tua melawan kita," ucap Talshir kepada AFP.
Melalui kunjungan ini, Netanyahu juga akan memastikan dukungan kuat Washington padanya dengan membicarakan rincian rencana pemindahan gedung kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Meski dikecam oleh berbagai pihak, pada 6 Desember lalu Trump memastikan bahwa pemerintahannya akan tetap memindahkan kedubes tersebut tanggal 14 Mei mendatang, sekaligus merayakan 70 tahun hubungan kedua negara.
"Saya sangat senang dia mengambil keputusan bersejarah itu," ucap Netanyahu saat bersiap bertolak ke AS pada Sabtu lalu.
[Gambas:Video CNN]
Keputusan ini dikecam oleh banyak pihak karena dianggap dapat merusak upaya damai Israel dengan Palestina, di mana keduanya memperebutkan Yerusalem sebagai ibu kota.
Namun, Netanyahu disebut enggan membicarakan kemungkinan perundingan itu mandek. Ia lebih memilih menaruh fokus pembicaraan pada persoalan Iran, musuh bebuyutan Israel yang kini sedang berupaya mengerahkan pasukan permanen di Suriah.
"Israel, saya pikir, berharap ada peran aktif Amerika untuk mencoba menghentikan pergerakan Iran di Suriah," ucap Talsher. (has)