"Mari kita dengar langsung dari pihak Korea Utara sendiri apa yang mereka tawarkan dan apa yang mereka mau lakukan. Ada banyak alasan untuk berhati-hati, mengingat rekam jejak mereka," kata Daniel Russel, mantan Wakil Menteri Luar Negeri untuk Asia Timur dan Pasifik Daniel Russel, dikutip Reuters pada Jumat (9/3).
Janji Kim dan kesiapan Trump disampaikan oleh Kepala Keamanan Nasional Korea Selatan Chung Eui-yong setelah memberi penjelasan kepada para pejabat Gedung Putih soal potensi dialog dengan Korut, Kamis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang baru saat ini bukan tawaran, tapi respons (Trump)."
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Mark Dubowitz, CEO Foundation for Defense of Democracies, Washington. Dia mengatakan hal ini mungkin terjadi karena tekanan dari pemerintahan Trump mulai terasa dampaknya, tapi bagaimanapun Korut mesti ditanggapi dengan berhati-hati.
"Kita harus berhati-hati: Korut telah menyatakan hal semacam ini sebelumnya--Kim Jong-il ingin bertemu dengan Presiden Clinton. Pyongyang mesti serius soal denuklirisasi."
Ada tiga kemungkinan Skenario yang mungkin terjadi, kata Takashi Kawakami, Presiden Institut Studi Dunia Takushoku University di Tokyo. Menurutnya, AS akan menunggu bagaimana jalannya pembicaraan Korut-Korsel pada April ini untuk memutuskan keputusan akhir soal pertemuan Trump dengan Kim.
Setelah bertemu Kim Jong-un, pejabat Korsel menyebut Korut siap menghentikan uji coba nuklir dan berdialog dengan AS. (The Presidential Blue House/Yonhap via REUTERS) |
"Dari tiga skenario itu, saya melihat skenario kedua yang paling mungkin terjadi, sementara Jepang yang meminta tekanan terus menerus akan ditepikan."
(aal)
Setelah bertemu Kim Jong-un, pejabat Korsel menyebut Korut siap menghentikan uji coba nuklir dan berdialog dengan AS. (The Presidential Blue House/Yonhap via REUTERS)