"Mereka [puluhan orang] itu mendapat perawatan di rumah sakit seperti tes darah dan anjuran kesehatan," kata Plt Kepala Kepolisian Wiltshire Kier Pritchard kepada media Inggris, Sky News seperti dikutip CNN, Jumat (9/3).
Selain polisi, sejumlah ahli forensik dan analis kimia juga ikut mendapat perawatan di rumah sakit karena terlibat langsung dalam penyelidikan kasus Skripal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skripal dan putrinya, Yulia, ditemukan pingsan di sebuah bangku pusat perbelanjaan di Salisbury, Minggu (4/3). Keduanya tak sadarkan diri akibat diracun oleh zat yang tidak diketahui, Minggu (4/3).
Skripal, 66, merupakan eks mata-mata Rusia yang pernah dipenjara karena tuduhan mengkhianati negara karena menjadi agen untuk Inggris.
Kepolisian mengonfirmasi pada Kamis bahwa Skripal dan putrinya, yang kini masih dalam keadaan kritis, diracun oleh agen saraf. Agen saraf merupakan zat kimia berbahaya yang dapat mematikan sistem saraf tubuh dan menyebabkan kematian.
Kepala divisi penanggulangan terorisme Kepolisian Metropolitan London, Mark Rowley, mengatakan Skripal dan putrinya sengaja menjadi target pembunuhan.
Intelijen Barat melihat bahwa Rusia menjadi otak percobaan pembunuhan Skripal. Hal tersebut didasari oleh beberapa pembunuhan yang menggunakan substansi dan metode serupa.
Menteri Dalam Negeri Inggris Amber Rudd menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen melakukan apa saja yang bisa untuk menangkap dan mengadili pelaku.
Foto: REUTERS/Toby MelvilleLokasi Sergei Skripal dan putrinya ditemukan pingsan di Salisbury. |
Perdana Menteri Theresa May mengatakan Inggris akan merespons dengan tegas jika bukti menegaskan bahwa Rusia menjadi otak dibalik percobaan pembunuhan ini.
"Kami akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kami akan melakukan apa yang benar jika ini terbukti kasus yang disponsori oleh negara," ucap May kepada ITV News seperti dikutip Reuters.
Jika Moskow terbukti terlibat, sejumlah pihak menganggap insiden ini akan semakin menjerumuskan hubungan Rusia dan negara-negara Barat ke titik terendah. Insiden ini juga memicu pertanyaan akan kemampuan Inggris untuk melindungi warganya di dalam negeri.
(nat)
Foto: REUTERS/Toby Melville