Meski dituntut mundur, Presiden Suriah Bashar al-Assad terus memperkuat kekuasaannya di tengah konflik yang memasuki tahun ke delapan.
Pengawas perang menyebut pasukan rezim sekarang menguasai 70 persen wilayah tersebut. Area yang tersisa terbagi menjadi tiga kantong pemberontak yang terus menyusut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari itu, serangan pemerintah ke Hammuriyeh mendobrak sebuah koridor kota menuju daerah kekuasaan pemerintah.
Hari itu, perempuan dan anak-anak melarikan diri lewat koridor tersebut, di antaranya membawa kantong plastik berisikan pakaian dan mendorong kereta bayi berisi koper dan karpet.
Mereka tiba di pos pemeriksaan rezim distrik Adra, dimana ambulans dan bus hijau besar menunggu untuk membawa mereka ke tempat penampungan sementara.
PBB menyatakan tengah berupaya menentukan jumlah orang yang meninggalkan daerah kantong pemberontak tersebut. Juru bicara PBB mengatakan pihaknya "belum mengamati evakuasi, namun sudah mengunjungi penampungan kolektif tempat beberapa pengungsi tiba."
Ilustrasi warga Ghouta Timur. (AFP Photo/ Abdulmonam Eassa) |
Keadaan ini menyebabkan 400 ribu penduduk kesulitan mendapat makanan, sementara rumah sakit lumpuh akibat kekurangan obat dan peralatan.
"Ini hanya sebagian kecil dari yang dibutuhkan keluarga-keluarga disini," kata Komite Internasional Palang Merah (ICRC) yang menyampaikan bantuan tersebut bersama Bulan Sabit Arab Suriah dan PBB.
Presiden ICRC Peter Meurer ikut dalam konvoi, pertama kalinya dia mengikuti operasi semacam itu.
Hujan bom sempat terjadi sementara 25 truk pengirim makanan dan kantong tepung untuk masyarakat yang kelaparan melintasi Douma.
Seorang koresponden AFP mengatakan para pekerja bantuan berlarian mencari perlindungan, namun tidak lama kemudian dapat melanjutkan pengiriman tersebut.
(lit/aal)
Ilustrasi warga Ghouta Timur. (AFP Photo/ Abdulmonam Eassa)