Dalam pernyataan yang dikutip CNN pada Rabu (21/3), perusahaan menyatakan pemecatan Nix berlaku segera, sembari "menanti investigasi utuh dan independen" terkait persoalan itu.
Pernyataan tersebut dirilis beberapa saat sebelum Channel 4 News di Inggris menyiarkan laporan yang mengekspos cara kerja perusahaan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alex Tayler, kepala bidang data Cambridge Analytica, terekam secara terpisah menyebut analisis perusahaan berkontribusi pada kemenangan Elektoral Trump.
"Jika Anda memikirkan fakta bahwa Donald Trump kalah dalam suara populer sebesar 3 juta suara, tapi memenangkan suara Elektoral, itu karena data dan penelitian," kata Tayler secara terpisah dari Nix. "Itulah bagaimana kami memenangkan pemilu.
Nix juga terekam berbicara dengan wartawan yang menyamar jadi seorang klien, mengaku meyakini AS tidak punya yurisdiksi terkait aktivitas mereka. Dalam rekaman, dia mendeskripsikan pertanyaan yang dia terima dari Komisi Intelijen Dewan Perwakilan.
Laporan Channel 4 sebelumnya menunjukkan Nix mengatakan kepada wartawan yang menyamar jadi calon klien asal Sri Lanka bahwa dirinya bisa "mengirim perempuan ke rumah kandidat" untuk mendapatkan materi tidak senonoh.
Seorang wartawan kemudian bertanya, "Anda menggunakan perempuan untuk ini, untuk menggoda, mereka bukan orang lokal? Bukan orang Sri Lanka?"
Nix mengatakan tidak.
"Katakan kami bisa bawa orang Ukraina," ujarnya. "Mereka sangat cantik. Biasanya berhasil."
Pernyataan Cambridge Analytica pada Selasa menyatakan akan ada penyelidikan independen dan hasilnya akan diungkap oleh perusahaan seiring prosesnya berjalan.
"Komentar Nix yang secara diam-diam direkam Channel 4 dan dugaan lain tidak mewakili nilai atau operasi perusahaan dan pemecatannya menunjukkan keseriusan kami memandang pelanggaran ini," bunyi pernyataan tersebut.
Perusahaan ini juga dikaitkan dengan skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook untuk kepentingan kampanye pemilu sejak 2014 lalu.
(aal)