"Ya benar," kata Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com pada Rabu (21/3).
KBRI menyatakan insiden terjadi pada Selasa sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Saat itu, seorang staf KBRI sedang mampir ke sebuah koperasi belanja yang terletak tepat di depan rumahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mortir itu diperkirakan jatuh dari arah timur yang tidak terhalang bangunan-bangunan tinggi. Kaca-kaca bangunan di wilayah itu juga dilaporkan pecah akibat ledakan.
KBRI memastikan tidak ada stafnya menjadi korban dalam insiden yang melukai seorang anak dan menghancurkan lima mobil tersebut.
Menurutnya, tembakan mortir merupakan hal lumrah di sana, terutama sejak wilayah Ghouta Timur digempur militer Suriah dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, dia mengatakan bahwa KBRI belum memiliki rencana untuk mengevakuasi para stafnya dari wilayah konflik itu.
"Situasi tetap normal, perkantoran tetap buka, dan hari ini hari libur memperingati Hari Ibu di Suriah. Tembakan mortir pemberontak dari Jobar/Ghouta adalah hal biasa dan rutin di sini meski tidak setiap saat. Belum perlu evakuasi," kata Djoko.
Salah satu alasan KBRI masih tetap beroperasi di wilayah konflik itu adalah karena masih ada WNI di sana. Hingga kini, evakuasi WNI dari Suriah secara teknis juga masih dilakukan pemerintah.
Kementerian Luar Negeri mencatat hingga akhir 2017 pemerintah telah memulangkan sekitar 13 ribu WNI dari Suriah.
Namun, berdasarkan data klarifikasi awal 2012, WNI di Suriah hanya sekitar 12.572 orang. Selisih data ini mengindikasikan masih ada arus masuk WNI ke Suriah secara ilegal meski pemerintah telah melakukan evakuasi dan pemulangan. (has)