Mengosongkan Ghouta Timur

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 25/03/2018 05:56 WIB
Mengosongkan Ghouta Timur Pertempuran terakhir di Ghouta Timur. (Foto: AFP PHOTO / HAMZA AL-AJWEH)
Jakarta, CNN Indonesia --
Muhammad, 20 tahun, menatap nanar reruntuhan yang tersisa di Ghouta Timur, Suriah, kota kelahirannya. Di balik reruntuhan itu, ayahnya terkubur dan tak bisa dievakuasi.

Evakuasi pasukan pemberontak dan warga sipil di Ghouta Timur sedang berlangsung, sebagai respons tersudutnya pemberontak yang dibombardir oleh pasukan pemerintah Suriah, dibantu Rusia. 

Muhammad termasuk di dalam arus evakuasi itu. Dia mengatakan evakuasi itu adalah hal yang manis sekaligus pahit. Dia dan dua saudaranya selamat dari pengeboman, tapi ayahnya tidak. Tapi mereka tak bisa mengevakuasi jenazahnya dari reruntuhan untuk dimakamkan.

"Apa yang menyakitkan kami adalah, kami tak bisa mengubur keluarga kami, mereka masih berada di reruntuhan itu," katanya kepada AFP.

Setelah Harasta, evakuasi warga sipil dan pemberontak terus berlanjut di Kota Ghouta Timur, Suriah. Ini menandai makin dekatnya pasukan pemerintah Suriah untuk mengambil alih daerah pertahanan pemberontak.

"Sebanyak 17 bus telah meninggalkan Arbin, melintas ke timur Ghouta, membawa 981 orang, termasuk pemberontak dan keluarganya," demikian dilaporkan kantor berita SANA, Sabtu (24/3).

Penarikan itu adalah bagian dari perjanjian evakuasi, yang diperkirakan melibatkan 7.000 orang, untuk meninggalkan Ghouta Timur, kota yang dikuasai pemberontak, menuju Idlib di baratlaut. Ghouta Timur termasuk pertahanan terakhir kaum oposisi di luar Damaskus.

Diperkirakan pertahanan pemberontak yang terkepung tinggal kurang dari 10 persen saja. Sejak 18 Februari, serangan darat dan udara yang dibantu Rusia telah memperluas area kekuasaan pemerintah.

Pemerintah sendiri memakai perjanjian evakuasi untuk membersihkan tiga kantung pertahanan pemberontak yang tersisa di Goutha Timur. Pembicaraan masih berlangsung untuk daerah terakhir di area Douma. Sedang untuk dua kantung pertahanan yang lain, sudah tercapai kata sepakat, yaitu penarikan segera dan prosesnya sedang berlangsung.

Pejuang dari faksi Islamist Faylaq al-Rahman adalah yang terakhir yang siap meninggalkan Ghouta Timur, menyusul lemahnya kelompok garis keras lain yang meninggalkan kota Harasta, pada beberapa hari terakhir, menuju provinsi Idlib, yang masih dikuasai pemberontak.


Setelah tertunda selama beberapa jam, pasukan pemberontak dan warga sipil akhirnya meninggalkan Arbin dan bergerak ke pos pemeriksaan yang memisahkan kawasan oposisi dan pemerintah. Koresponden AFP melaporkan, belasan bus berkumpul di perlintasan, di mana pemberontak dicari dan kemudian diberi makanan dan minuman oleh Bulan Sabit Merah Arab Suriah.

Evakuasi dari daerah Arbin, Zamalka, dan Ain Tarma dijadwalkan dimulai pada Sabtu (24/3) pagi. Tapi masalah logistik telah menunda rencana itu. Bus-bus akhirnya bisa memasuki daerah itu pada pukul 16.00 waktu setempat.

Serangkaian pengeboman oleh pasukan pemerintah di Damaskus dan sekitarnya telah menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil, menurut Pemantau HAM Suriah. Termasuk seorang pesepakbola muda Suriah, Samir Mohamad Massoud, 12 tahun. Dia tewas akibat serangan roket yang menimpa sebuah klub olahraga di Mazraa, Damaskus, seperti dilansir SANA.

Massoud adalah pemain muda di klub milik militer Suriah yang berlaga di liga remaja. Dia dilatih di Al-Fayhaa. Serangan itu juga melukai tujuh orang lain di klub olahraga tersebut.
(ded/ded)