Zuckerberg mengatakan orang-orang berupaya memanfaatkan Facebook sebagai alat untuk "menghasut bahaya nyata" di Myanmar dan pihaknya tengah berupaya mengatasi masalah tersebut.
"Perusahaan, saya pikir telah menaruh banyak perhatian terhadap isu di Myanmar," kata Zuckerberg saat diwawancarai Vox, Senin (2/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pesan itu menginstruksikan seluruh warga Muslim agar membawa senjata dan pergi ke suatu tempat. Pesan serupa juga muncul dari kelompok di sisi lainnya," kata Zuckerberg.
"Jadi hal itu saya pikir menunjukkan bahwa orang-orang mencoba menggunakan kami sebagai alat menghasut bahaya nyata."
Facebook, ujar Zuckerberg, langsung menyetop penyebaran pesan itu.
Lihat juga:Myanmar Izinkan Kunjungan Dewan Keamanan PBB |
Krisis itu dipicu bentrokan antara kelompok bersenjata Rohingya dan militer Myanmar pada 25 Agustus. Sejak itu, militer meluncurkan operasi militer yang mereka klaim diarahkan pada kelompok bersenjata.
Mark Zuckerberg mengakui media sosialnya digunakan untuk menghasut kekerasan di Myanmar. (REUTERS/Mariana Bazo) |
Krisis itu mendorong gelombang eksodus ratusan ribu Rohingya ke Bangladesh. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tragedi kemanusiaan ini sebagai upaya "pembersihan etnis" Rohingya.
Menanggapi, Zuckerberg memaparkan perusahaan terus berupaya meminimalisir penyalahgunaan media sosialnya dengan memantau aktivitas komunitas pengguna Facebook di seluruh dunia.
Pria 33 tahun itu juga mengatakan Facebook terus berupaya menjadi "perusahaan yang lebih mendunia."
"Kami sudah memiliki kantor perwakilan di seluruh dunia jadi kami sudah cukup mendunia," ujar Zuckerberg.
(aal/aal)
Mark Zuckerberg mengakui media sosialnya digunakan untuk menghasut kekerasan di Myanmar. (REUTERS/Mariana Bazo)