"Masyarakat internasional mesti memberi lebih banyak tekanan untuk Myanmar sehingga mereka mengambil kembali warga mereka sendiri dan memastikan keamanannya," kata Hasina di London, sebagaimana dikutip Reuters pada Rabu (18/4).
"Myanmar menyatakan mereka siap mengambil kembali Rohingya, tapi mereka tidak mengambil inisiatif."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbicara di acara berbeda di London, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dan Menlu Kanada Chrystia Freeland menyerukan investigasi berarti atas laporan kekejaman itu.
"Pihak berwenang (Myanmar) mesti mendemonstrasikan bahwa mereka serius soal keamanan dan keselamatan Rohingya," kata Johnson.
Hasina mengatakan Bangladesh sudah mengajukan nama 8.000 keluarga Rohingya untuk repatriasi ke Myanmar, tapi negara itu masih menolak menerima mereka.
Lihat juga:Presiden Baru Myanmar Ampuni 8.000 Tahanan |
Hasina menentang pernyataan Myanmar yang mengklaim telah merepatriasi keluarga beranggota lima orang dari Bangladesh. Dia menyebut para pengungsi yang dimaksud selama ini tinggal di zona tak bertuan antara kedua negara.
Potret pengungsi Rohingya. (REUTERS/Adnan Abidi) |
Hasina juga memastikan rencana memindahkan 100 ribu Rohingya ke pulau tak layak huni di Pantai Bengal. Walau demikian, dia menepikan kekhawatiran publik bahwa para pengungsi akan dilanda banjir pasang di tempat itu.
"Di tempat tinggal mereka sekarang, musim penghujan akan segera tiba dan bisa jadi ada tanah longsor, kecelakaan bisa terjadi."
Badan-badan bantuan kemanusiaan, walau demikian, khawatir rencana relokasi itu akan memaparkan para pengungsi Rohingya kepada angin topan, banjir dan penyelundup manusia.
(aal)
Potret pengungsi Rohingya. (REUTERS/Adnan Abidi)