Meski masih sering diperdengarkan retorika unifikasi, terutama oleh pihak Korut, dalam perbaikan hubungan kali ini Presiden Korsel Moon Jae-in lebih menempatkan perdamaian dan rekonsiliasi sebagai tujuan pragmatis.
Moon akan bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di desa perbatasan Panmunjom pada Jumat Pertemuan tingkat tinggi kedua negara terakhir kali digelar pada 2007 dan 2000 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korea Selatan kini setara dengan negara-negara maju setelah menanjak dari salah satu negara termiskin di dunia, berkat darah dan keringat generasi orang tua kami," kata Park Jung-ho (35), pekerja kantoran di Seoul.
"Setelah unifikasi, semuanya akan kembali ke sediakala ketika kita masih menjadi negara berkembang," kata Park.
Di sisi lain, tak mungkin untuk melihat bagaimana pandangan warga Korut yang terisolasi tentang wacana unifikasi kedua negara. Namun, surat kabar pemerintah setempat, Rodong Sinmun, melaporkan ada "keinginan kuat untuk reunifikasi" dan menyebut Kim sebagai "lelaki tak tertandingi yang memimpin sejarah dan mengatur tren dunia."
"Keterasingan dan kerusakan," kata pekerja kantoran itu, ketika ditanya soal hal pertama yang muncul dipikiran ketika memikirkan unifikasi.
Laporan tahunan oleh Seoul National University tentang pandangan warga Korsel soal unifikasi menyebut penduduk negara itu terbelah dengan perbandingan yang kurang lebih sama. Namun, persentase pendukung keras wacana itu terus menurun sejak 2007.
Tahun lalu, 53,8 persen responden mengatakan unifikasi adalah "keharusan." Pada 2007, angka itu melebihi 63 persen.
(aal)