Hal tersebut diutarakan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman menyusul laporan surat kabar Kommersant yang menyebutkan Moskow segera mengirimkan sistem rudal itu ke Damaskus.
"Yang terpenting bagi kami adalah senjata pertahanan yang Rusia berikan kepada Suriah tidak akan digunakan untuk melawan kami," kata Lieberman kepada situs berita Ynet sebagaimana dikutip AFP, Rabu (25/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, menurut laporan Kommersant, pengiriman S-300 tertunda karena protes dan tekanan dari Israel.
Wacana pengiriman S-300 kembali mencuat pasca-serangan gabungan Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris ke Suriah pada 14 April lalu. Serangan itu dilakukan sebagai respons terhadap dugaan penggunaan senjata kimia oleh pemerintahan Bashar Al-Assad.
Awal April lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan belum ada keputusan terbaru terkait pengiriman rudal-rudal S-300 ke Suriah.
"Kami selalu terbuka dengan Rusia. Kami benar-benar mendiskusikan hal ini dengan mereka meski kita tahu bahwa sistem pertahanan mereka tidak pernah digunakan untuk melawan Israel," ucap Lieberman.
"Selama beberapa tahun terakhir kami berupaya terus berkoordinasi demi menghindari gesekan dengan Rusia,"
Israel dan Suriah secara teknis masih berperang sebab kedua negara hanya menyepakati perjanjian gencatan senjata pada Perang Enam Hari 1967 lalu. Saat itu, Suriah dan Israel memperebutkan wilayah Dataran Tinggi Golan.
(aal)