Diberitakan AFP, lawatan selama empat hari ini akan diawali dengan kunjungan ke kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh.
Setelah itu, delegasi yang dipimpin oleh Kuwait, Inggris, dan Peru ini rencananya bakal menggunakan helikopter menuju Rakhine, terutama ke empat desa pusat krisis, termasuk Pan Taw Pyin dan Shwe Zar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otaibi kemudian mengatakan bahwa kunjungan ini sangat penting karena kini ada 700 ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh.
Gelombang kekerasan ini kembali memanas sejak Agustus lalu, setelah kelompok bersenjata Pasukan Pembela Rohingya Arakan (ARSA) melakukan serangan ke sejumlah pos polisi dan satu pangkalan militer di Rakhine.
Pemerintah Myanmar lantas melakukan operasi pembersihan tanah Rakhine dari ARSA. Namun ternyata, militer tak hanya menarget ARSA, tapi juga membantai Rohingya, hingga menewaskan sekitar 1.000 orang.
Meski demikian, pemerintah Myanmar juga dianggap tak banyak bertindak untuk menghentikan penyebab krisis ini.
"Mereka hampir tidak melakukan apa-apa. Jadi, jika lawatan ini dibutuhkan untuk menekan mereka agar bertindak terhadap pembersihan etnis yang mereka ketahui, maka kami akan menanti sebuah resolusi ketika mereka pulang," kata wakil direktur PBB untuk Human Rights Watch. (has)