Kim dan Moon menyepakati hal tersebut setelah menggelar pertemuan tingkat tinggi selama seharian di desa gencatan senjata zona demiliterisasi, Panmunjon, Jumat (27/4). Keduanya juga sempat berbicara empat mata selama 30 menit, tanpa didampingi anggota delegasi masing-masing.
Perbaikan hubungan antara Korut dan Korsel menyusul ketegangan yang memuncak pada 2017, ketika Kim beberapa kali melakukan uji coba peluru kendali, dan uji coba nuklir keenam sepanjang sejarah Korea.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih banyak hal yang mesti dilakukan sebelum niat baik ini beranjak jadi langkah praktis. Namun, ini jelas adalah titik balik, dan kini tantangannya adalah untuk Presiden [Amerika Serikat Donald] Trump dan Kim Jong-un untuk mengembangkannya," kata dia.
Dia juga mengatakan niat Kim dalam menyelesaikan isu nuklir masih dipertanyakan. Dalam pidatonya usai deklarasi bersama, Kim mengatakan kedua negara mesti bersatu, tapi tak menyinggung masalah denuklirisasi.
Vipin Narang, profesor ilmu politik MIT, mengatakan Korea Utara telah lama berkomitmen pada denuklirisasi Korea Utara. Namun, hal itu berbeda dengan perlucutan unilateral.
"Hingga ada bukti kesepakatan soal definisi dan langkah konkret terkait 'denuklirisasi Semenanjung Korea', tidak ada banyak ruang untuk bergerak--baik dalam hal potensi pelucutan, maupun soal konflik, jika definisi Korut berbeda dengan AS."
[Gambas:Video CNN]
Walau Kim tidak menyinggung masalah denuklirisasi dalam pidatonya, dokumen deklarasi bersama menyatakan kedua negara telah menyepakati denuklirisasi penuh.
"Memastikan tujuan yang sama merealisasikan, melalui denuklirisasi penuh, Semenanjung Korea yang bebas nuklir," bunyi deklarasi Panmunjom.
"Dan dalam hal itu, tak penting apakah Kim Jong-un serius karena permainan sesungguhnya adalah antara dia dan Trump dalam soal nuklir."
(aal)