Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Israel, Gedung Putih menyatakan bahwa program nuklir Iran ternyata lebih maju dari yang diperkirakan pada 2015.
Sehingga, perjanjian pada 2015 itu dilakukan berdasarkan dasar yang salah, jelas Sekretaris Wartawan Gedung Putih Sarah Sanders.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Israel Sebut Iran Bohong Soal Senjata Nuklir |
Selain itu, Gedung Putih juga menyebut bahwa Israel telah memberikan pemberitahuan sebelumnya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait hasil investigasi mereka itu.
Sementara itu Israel menyebut bahwa pertemuan dengan Trump sudah dilakukan pada 5 Maret.
Pada pertemuan itu, Trump menyatakan persetujuannya agar Israel mempublikasikan temuannya sebelum 12 Mei. Tanggal tersebut merupakan batas akhir untuk menentukan apakah Amerika Serikat akan menghentikan perjanjian nuklir dengan Iran.
Israel tak cari perang
Israel sendiri menyatakan tidak mencari perang dengan Teheran.
"Tidak ada yang mencari penyelesaian seperti itu [perang]. Iranlah yang mengubah aturan di wilayah tersebut," jelas Netanyahu kepada CNN.
Pemaparan hasil investigasinya terhadap kegiatan nuklir Iran disebutkan Israel adalah sebagai upaya untuk mengakhiri kesepakatan yang akan membatasi ambisi produksi atom Iran.
"Kami memberi peringatan kepada rezim Zionis dan sekutunya untuk menghentikan karangannya dan perilaku berbahaya mereka atau mereka akan menghadapi respins mengejutkan dan tegas dari Iran," cetus Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami, seperti ditulis kantor berita Iran Tasnim, Selasa (1/5).
Hatami juga menyebut tuduhan Israel dilakukan tanpa dasar. Selain AS, Israel juga sudah memberikan hasil investigasinya kepada China. Mereka juga akan memberikan laporan tersebut kepada Inggris, Perancis, dan Jerman. Kelimanya merupakan pemegang hak veto PBB dengan tambahan Jerman. (reuters)