TKI Hilang 28 Tahun di Saudi Kembali ke Pangkuan Keluarga

Natalia Santi, CNN Indonesia | Rabu, 16/05/2018 20:52 WIB
TKI Hilang 28 Tahun di Saudi Kembali ke Pangkuan Keluarga Jumanti binti Bejo Nurhadi alias Qibtiyah, 74 tahun, yang hilang 28 tahun di Arab Saudi bertemu sanak keluarganya di Desa Tempurejo, (Dok. Kemlu RI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanggal 13 Mei 2018, boleh jadi akan menjadi hari bersejarah bagi nenek Jumanti binti Bejo Nurhadi alias Qibtiyah, 74 tahun, WNI asal Jember. Setelah 28 tahun mengembara di Arab Saudi untuk bekerja dan putus komunikasi dengan keluarga, akhirnya ia bisa merasakan kembali "suasana naik pesawat" untuk kembali ke Indonesia.

Pada hari itu, didampingi Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, Nenek Qibtiyah kembali ke kampung halaman. Dia juga mendapat keistimewaan lain, yakni pulang ke Tanah Air melalui VIP Lounge Bandara. Sesuatu yang tidak mungkin dinikmati WNI yang mendapat izin keluar Arab Saudi lewat tarhil, lantaran tidak punya dokumen resmi selama 28 tahun di Arab Saudi.

Hal ini pun membuat petugas imigrasi sempat kaget saat memeriksa dokumen Nenek Qibtiyah. Dubes RI Riyadh pun menjelaskan soal Nenek Qibtiyah yang sempat hilang selama 28 tahun di Arab Saudi. "Namun atas Kuasa Allah SWT dan melalui ikhtiar serta bantuan dari Gubernur Riyadh, Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud yang juga merupakan keponakan Raja Salman, akhirnya Nenek Jumanti bisa ditemukan," kata Dubes Agus Maftuh kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/5).



Dubes menyatakan dia ingin memastikan pemulangan Nenek Jumanti ke Indonesia berjalan lancar karenanya dia mendampinginya. Setelah itu, dengan diantar petugas VIP menggunakan mobil golf, Nenek Jumanti bersama Dubes RI pun diantar sampai ke pintu pesawat untuk proses boarding penerbangan EK 818 menuju Dubai dan akan dilanjutkan dengan EK 356 rute Dubai-Jakarta.

"Mendarat di Jakarta, kami dijemput langsung oleh sahabat Nusran Wahid, Kepala BNP2TKI dan juga sahabat-sahabat dari Kemenlu RI," kata Dubes Agus Maftuh.

Dia menyampaikan dua hari sebelum pulang Nenek Qibtiyah sempat baca shalawat mahalu qiyam bersama jamaah Ruhama (Rumah Masa Depan), rumah singgah bagi WNI yng kurang beruntung di tabligh akbar dan menyambut Ramadan serta tahlil akbar untuk mendiang Zaini Misrin, TKI yang baru-baru ini dihukum mati Arab Saudi. "Pengajian tersebut diisi oleh Ulama Madura dan juga pakar tafsir Al-Quran dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Malik Madaniy," kata Dubes RI.


Dilansir Kementerian Luar Negeri RI, Nenek Qibtiyah pun tiba di kampung halamannya di Desa Tempurejo, Jember, saat sore menjelang Magrib, Selasa (15/5). Isak tangis haru pun pecah.

"Sebagian keluar menganggap ini sebuah keajaiban. Mereka sudah sampai pada titik pasrah. Tapi dengan upaya Tim Perlindungan WNI KBRI Riyadh, akhirnya bisa ditemukan", ujar Chairil Anhar, case officer Kementerian Luar Negeri yang mengantarkan Ibu Qibtiyah ke kampung halaman di Jember.

Kemlu dan KBRI Riyadh pertama kali mendapatkan laporan tentang Qibtiyah alias Jumati binti Bejo dari keluarga pada 9 Maret 2018. Dalam laloran tersebut disebutkan bahwa Qibtiyah berangkat ke Arab Saudi pertama kali pada 14 Agustus 1990. Saat itu usianya 46 tahun. Sejak berangkat, Qibtiyah tidak pernah ada komunikasi dengan keluarga di Jember.

Qibtiyah bersama Dubes RI Riyadh Agus Maftuh AbegebrielFoto: Dok. KBRI Riyadh
Qibtiyah bersama Dubes RI Riyadh Agus Maftuh Abegebriel


Nama Qibtiyah maupun Jumanti binti Bejo tidak tercantum dalam database KBRI Riyadh, KJRI Jeddah maupun Kemlu. Artinya Qibtiyah tidak pernah meminta pelayanan apapun di Perwakilan RI selama 28 tahun keberadaannya di Arab Saudi. Ini membuat harapan menemukan Qibtiyah meredup.

Tim Perlindungan WNI KBRI RIyadh tidak putus asa. Informasi disebarkan dan komunikasi dilakukan dengan simpul-simpul WNI di Arab Saudi. Hingga suatu saat ditemukan titik terang dari seorang WNI bernama Niayah bt Kasimin, asal Malang. Niayah pernah berinteraksi dengan Qibtiyah. Niayah bekerja pada kakak majikan Qibtiyah. Dari situ penelusuran dilakukan. Diketahui bahwa majikan bernama Abdul Azis Muhammed Al-Daerim. Namun, Nenek Qibtiyah sempat disebut-sebut telah pulang ke Indonesia tiga bulan sebelumnya.

KBRI melayangkan surat kepada Kemlu Arab Saudi. Duta Besar RI Agus Maftuh Abegebriel mengirimkan surat kepada Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud, yang juga keponakan Raja Salman. Akhirnya, pada 18 April 2018, KBRI dengan dukungan aparat setempat, menjemput Qibtiyah dari majikannya dan membawa pindah ke rumah singgah KBRI Riyadh.

Meskipun tidak ada tindak kekerasan, selama 28 tahun majikan tidak pernah membuatkan izin tinggal, memperpanjang paspor maupun memfasilitasi komunikasi dengan keluarga. Atas upaya KBRI, sisa gaji Qibtiyah berhasil diupayakan dari majikan. Pada 1 Mei 2018, bertempat di KBRI Riyadh, Nenek Qibtiyah menerima gaji sebesar 76 ribu riyal (sekitar Rp266 juta) diserahkan keponakan majikan Kapten Ibrahim Muhammad.


"Sekarang Qibtiyah sudah dibantu membuka rekening bank. Qibtiyah akan menghabiskan waktunya di kampung halaman menikmati hasil kerjakerasnya selama 28 tahun," kata Chairil.

Sejak 2014 hingga saat ini, Kemlu menerima tidak kurang dari 950 pengaduan (rata-rata 200 pengaduan pertahun) terkait putus/hilang kontak dengan keluarga, khususnya yang bekerja sebagai TKI ke luar negeri. Sulitnya pencarian di luar negeri menyebabkan tingkat penyelesaian relatif rendah (19 persen).

Pengaduan kasus putus/hilang kontal paling banyak adalah kawasan Timur Tengah (679), Asia Timur dan Tenggara (189) dan Amerika Selatan (25). Sulitnya penelusuran WNI/TKI salah satunya adalah karena sebagian besar agen-agen pengirim TKI tidak menjalankan kewajiban undang-undangnya untuk menginformasikan kepada Perwakilan RI di luar negeri mengenai data TKI yang diberangkatkan (Formulir AN05).

(nat)