China kerap dikritik karena kebebasan beragama hanya terbatas pada organisasi yang terdaftar di negara. Selebihnya, warga dilaporkan kerap mengalami tindakan sewenang-wenang.
Partai Komunis China sendiri secara resmi dengan ketat melarang anggotanya memeluk agama. Dalam kasus tertentu, paham ateis partai itu bisa dipaksakan kepada orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bekali adalah seorang Muslim asal Kazakhstan. Bersama para tahanan lain, dia dipaksa melupakan keyakinannya, mengkritik diri sendiri dan memuji Partai Komunis.
Ketika ia menolak mengikuti perintah setiap harinya, dia dipaksa berdiri selama lima jam. Sepekan kemudian, dia dikirim ke ruang tahanan terisolasi.
Di ruang tahanan itu, ia tak diberi makan selama 24 jam. Setelah 20 hari berada di kamp itu, ia sempat ingin bunuh diri.
"Saya masih memikirkannya setiap malam, hingga matahari terbit. Saya tak bisa tidur."
Ilustrasi Muslim di China. (Reuters/Kevin Lee) |
Kelompok Muslim Radikal Uighur dilaporkan telah membunuh ratusan orang dalam beberapa tahun terakhir ini dan China menganggap kawasan Xinjiang sebagai ancaman besar bagi negara.
Para tahanan dipaksa melupakan identitas agama dan politiknya dengan sistem imbalan dan hukuman. Bentuk hukuman itu sendiri bisa berupa kurungan isolasi, pemukulan dan kelaparan paksa--seperti yang dialami Bekali.
Lelaki berusia 42 tahun itu ditahan aparat keamanan China selama delapan bulan sejak tahun lalu, tanpa bantuan hukum.
Cerita Bekali sulit untuk diverifikasi, tapi dua diplomat Kazakhstan mengonfirmasi ia sempat ditahan selama tujuh bulan dan dikirim ke kamp indoktrinasi.
Ketika ditanya mengapa warga asing turut ditahan, kementerian menyatakan pemerintah melindungi hak warga asing di China dan mereka meski menaati hukum.
Pejabat di Xinjiang tidak merespons permintaan komentar terkait hal ini.
(aal)
Ilustrasi Muslim di China. (Reuters/Kevin Lee)