"Tampaknya [Korea Utara] masih tulus mewujudkan perjanjian itu dan mengupayakan denuklirisasi serta pembangunan perdamaian," ujar Menteri Unifikasi Korsel, Cho Myoung-gyon, sebagaimana dikutip kantor berita Yonhap, Jumat (25/5).
Cho pun memastikan bahwa "pemerintah kami akan melakukan bagian kami untuk mewujudkan Deklarasi Panmunjom."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak saat itu, Korut menunjukkan komitmen untuk melakukan denuklirisasi, salah satunya dengan menghancurkan situs nuklir mereka di hadapan wartawan internasional.
Selama ini, Korut dan Korsel masih dalam status berperang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
AS dan Korut sendiri sebenarnya masih membuka pintu damai meski Trump sudah membatalkan pertemuan dengan Kim yang semula direncanakan digelar di Singapura pada 12 Juni mendatang.
Wakil Menteri Luar Negeri Korut, Kim Kye Gwan, pun menyatakan bahwa negaranya masih membuka diri untuk berdialog dengan AS.
"Pengumuman pembatalan pertemuan itu tak kami harapkan dan kami sangat menyesalkan itu. Kami menyatakan kepada AS keinginan kami untuk duduk bersama kapan pun untuk memperbaiki masalahnya," katanya. (has)