"Pada 31 Mei, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, akan berkunjung ke Korea Utara," demikian pernyataan resmi Kemlu Rusia, sebagaimana dikutip RT, Rabu (30/5).
Kemlu Rusia menyatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, kedua menlu akan membicarakan berbagai topik, mulai dari hubungan bilateral hingga situasi di Semenanjung Korea dan isu internasional lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Korsel, Moon Jae-in, mengatakan bahwa selama ini mungkin Korut dan AS memiliki pemahaman yang berbeda mengenai makna denuklirisasi. Ia pun mendesak kedua belah pihak untuk membicarakan perbedaan ini.
Dalam pembicaraan sebelumnya, Korut menyatakan keinginan untuk menghentikan program nuklirnya jika AS menarik pasukan dari Korsel dan mencabut seluruh "payung pencegah nuklir" dari wilayah kekuasaan Seoul dan Jepang.
Kehadiran pasukan AS di Korsel ini pula yang membuat Korut tiba-tiba mengancam membatalkan rencana pertemuan antara Kim dan Trump dua pekan lalu.
Sejak saat itu, AS dan Korut kembali melakukan perang pernyataan. Puncaknya, Trump membatalkan sepihak rencana pertemuan tersebut melalui sepucuk surat kepada Kim.
Sementara itu, AS juga mengirimkan tim persiapan ke Singapura, di mana pertemuan antara Kim dan Trump rencananya digelar pada 12 Juni mendatang.
Kini, orang kepercayaan Kim Jong-un, Kim Yong-chol, dilaporkan sudah berada di AS untuk membahas persiapan final pertemuan tersebut dengan Menlu AS, Mike Pompeo.
"Menantikan pertemuan dengan Kim Yong Chol di New York untuk membahas potensi KTT @Potus (President of United States) dengan Ketua Kim. Kami berkomitmen untuk menuntaskan denuklirisasi Semenanjung Korea yang terverifikasi dan abadi," tulis Pompeo dalam akun Twitter resminya. (has)