"Ada beberapa isu yang sebenarnya ingin pemerintah bahas dengan Timor Leste, yakni terkait pajak ganda, investasi, dan peningkatan konektivitas penerbangan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, di Jakarta, Jumat (22/6).
"Ini lawatan pertama Presiden Guterres meski kunjungan ke Indonesia telah direncanakan cukup lama. Karena pemerintahan Timor Leste baru terbentuk pasca-pemilihan umum beberapa waktu lalu."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, paparnya, kerja sama ekonomi Dili dan Jakarta terus menguat. Hal itu terlihat dari besarnya investasi pemerintah di negara yang sempat jadi wilayahnya itu.
Di Tahun 2016, kata Arrmanatha, Indonesia setidaknya telah menggelontorkan US$600 juta dana investasi dalam bentuk 18 proyek di Timor Leste. Beberapa perusahaan BUMN Indonesia juga turut memarkirkan dana investasi mencapai US$595 juta di negara tersebut.
"Beberapa BUMN seperti Bank BRI, Bank Mandiri, Pertamina, hingga Telkom juga ikut menggelontorkan investasi ke Timor Leste. Indonesia juga sedang menjajaki kerja sama pembangunan jalan tol dengan Timor Leste meski ini belum final," kata Arrmanatha.
Lantik Perdana Menteri
Hari ini, Timor Leste juga baru melantik Perdana Menterinya yang baru, Jose Maria de Vasconcelos yang memenangkan pemilu pada Mei lalu.
Vasconcelos merupakan mantan presiden sekaligus pejuang kemerdekaan Timor Leste yang berasal dari koalisi oposisi, Aliansi Perubahan untuk Perkembangan (AMP).
Sementara itu, Partai Fretilin yang mengusung perdana menteri petahana, Mari Alkatiri, hanya meraup 34,2 persen suara. Partai tersebut sempat memprotes dugaan kejanggalan pemungutan suara, tapi klaimnya ditolak pengadilan.
"Pemilu bulan lalu menunjukkan bahwa democracy works di kawasan, terutama di Timor Leste. Indonesia berharap pemerintahan baru ini dapat terus meningkatkan hubungan dengan Indonesia dalam bidang ekonomi bahkan people to people contact," tutur Arrmanatha.
(aal)