"Satu orang menjadi kepala legislatif, eksekutif dan yudisial dan ini adalah kekhawatiran bagi ancaman keselamatan negara," kata Ince kepada wartawan, dikutip CNN, Senin (25/6).
Perubahan konstitusi yang didorong Erdogan dimuluskan oleh referendum yang didukung oleh mayoritas kecil warga Turki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sekarang berada dalam kepemimpinan satu kepala--tak ada mekanisme untuk mencegah kekuasaan sewenang-wenang. Kita terus khawatir terkait situasi ini," kata Ince.
Berdasarkan data, Erdogan memenangkan 52,5 persen suara, sementara Ince yang sempat diperkirakan akan memberikan perlawanan ketat hanya meraup 31,7 persen.
Pemungutan suara di Turki diikuti sekitar 60 juta pemilih yang tersebar di 81 provinsi. Pemilu ini digelar berbarengan dengan pemilihan anggota parlemen.
(aal)