Maung Soe dituding melakukan pelanggaran serius dalam krisis Rohingya, termasuk pembunuhan dan kekerasan seksual.
Walau ada dugaan tersebut, melalui Facebook, militer Myanmar hanya mengatakan pencopotan Maung Soe dilakukan karena kinerjanya yang buruk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maung Soe pertama kali ditugaskan pada November lalu. Militer mengatakan pemecatan Maung Soe dilakukan demi "memeriksa tanggung jawab atas kelemahannya selama menangani stabilitas Rakhine."
Selain Uni Eropa, Amerika Serikat telah lebih dulu menjatuhkan sanksi kepada Maung Soe pada 2017 lalu. Kanada dan beberapa negara lain juga turut menjatuhkan sanksi serupa dengan Uni Eropa.
Dalam keterangan militer tersebut, selain Maung Soe, Letnan Jenderal Aung Kyaw Zaw, Komandan Biro Operasi Khusus, juga mengundurkan diri pada Mei lalu.
Militer Myanmar terus menjadi sorotan dunia sejak krisis kemanusiaan di Rakhine kembali memburuk pada Agustus 2017 lalu.
Meski membantah, militer dituding telah mengusir, menyiksa, memperkosa, hingga membunuh etnis Rohingya dalam operasi pembersihandengan dalih memberangus teroris, Agustus lalu.
Hingga kini, sedikitnya 700 ribu pengungsi Rohingya masih mengungsi di perbatasan Bangladesh, menunggu kepastian Myanmar yang telah berjanji merepatriasi mereka kembali ke kampung halaman.
(aal)