Puluhan juta warga Indonesia menggunakan hak suaranya untuk berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah serentak hari ini.
Pemilihan 171 wali kota, bupati dan gubernur disebut-sebut sebagai ajang pemanasan jelang pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka adalah bagian dari kelompok lepas Islamis di balik protes yang berujung pada kekalahan dan pemenjaraan atas penistaan agama pada 2017 terhadap gubernur etnis China dan Kristen, Basuki Tjahaja Purnama, sekutu Widodo."
Reuters menyoroti Jokowi yang berjanji menjaga tradisi pluralisme dan Islam moderat, juga kebijakannya melarang Hizbut Tahrir. Organisasi itu disebut "kelompok garis keras dengan ambisi mendirikan kalifah Islam."
Selain itu, kantor berita tersebut juga mengangkat tudingan-tudingan yang menyebut Jokowi bukan Islam dan merupakan keturunan komunis China.
Sementara itu, Al Jazeera menceritakan pembangunan gereja katolik yang merupakan "simbol kampanye Rahmat Effendi, wali kota Bekasi."
Rahmat mengizinkan pembangunan gereja tersebut meski ditentang masyarakat setempat. Keputusan itu diambil setelah sejumlah pemimpin gereja melobi pendahulunya selama 17 tahun, tanpa hasil.
"Kita punya 340 ribu non-Muslim di Bekasi, mereka butuh tempat ibadah. Itu bukan berarti mereka ingin menyebarkan agama. Mereka hanya ingin berdoa," kata Rahmat, dikutip Al Jazeera.
Sementara itu, sejumlah media lain menyoroti masalah keamanan hingga kaitan Pilkada 2018 dengan peluang Jokowi memenangkan Pilpres 2019.
Saat berita ini diturunkan, proses hitung cepat telah dimulai. Siapapun yang terpilih kelak punya banyak pekerjaan rumah menanti, dari mengatasi persoalan intolerasi, ketimpangan hingga kesejahteraan.
(aal)