Menteri Brexit David Davis dan Menteri Luar Negeri Boris Johnson memutuskan mundur dari kabinet May pada Senin (9/10), di saat pemerintah tengah berpacu melawan waktu menegosiasikan perceraian Inggris dengan Uni Eropa yang akan berlaku Maret 2019 mendatang.
Davis dan Johnson memutuskan keluar dari pemerintahan lantaran kecewa melihat kebijakan Brexit yang ditawarkan May, terutama soal perdagangan, yang dinilai membuat Inggris menjadi "jajahan Uni Eropa."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kekuasaannya, Partai Konservatif kemungkinan mengajukan mosi kepercayaan jika posisi May terlihat sudah terancam. Dibutuhkan setidaknya 48 anggota parlemen dari total 316 kursi untuk mengajukan mosi tersebut.
Namun, berdasarkan analisis CNN, May diperkirakan masih mempunyai dukungan dari 159 anggota parlemen dan kemungkinan akan menang, seandainya hal itu terjadi sekalipun. Selain itu, dalam dua tahun terakhir, May sudah menghadapi serangkaian tantangan serius dan tetap bertahan.
Kecil kemungkinan dia akan mengundurkan diri.
Meski May terpaksa mundur, penerusnya kemungkinan tidak akan menggelar pemilihan umum sela seperti yang pernah dilakukan pada Juli 2017 karena besar kemungkinan Partai Konservatif akan kalah.
Jika hal itu terjadi, Partai Buruh dipastikan akan mengajukan mosi tidak percaya demi menggulingkan pemerintah.
Boris Johnson menganggap kebijakan May kepada Uni Eropa terlalu lunak. (Matt Frost/ITV/REX/Shutterstock via Reuters) |
Krisis politik dalam pemerintahan May tak mengubah kerangka waktu Brexit, tapi memicu pertanyaan apakah seluruh proses negosiasi akan berjalan sesuai rencana atau gagal.
Kini, Uni Eropa masih menunggu posisi tegas Inggris terkait Brexit sebelum putaran terakhir negosiasi berlangsung di musim panas tahun ini.
Kesepakatan final Brexit seharusnya disetujui bersama oleh Uni Eropa dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi (KTT) pada Oktober ini. Namun, sejumlah pejabat Uni Eropa menganggap rapat tersebut kemungkinan ditunda hingga Desember melihat ketidakpastian situasi saat ini di Inggris.
Seandainya May bisa bertahan, dia harus berkompromi soal pendekatan lembutnya terhadap Brexit.
(aal)
Boris Johnson menganggap kebijakan May kepada Uni Eropa terlalu lunak. (Matt Frost/ITV/REX/Shutterstock via Reuters)