Kunjungi WNI di Penjara Brunei, Dubes RI Beri Dukungan Moril

Natalia Santi, CNN Indonesia | Rabu, 11/07/2018 23:19 WIB
Kunjungi WNI di Penjara Brunei, Dubes RI Beri Dukungan Moril Dubes RI untuk Brunei Darussalam, Sujatmiko, mengunjungi 59 WNI di tiga penjara negeri itu, Rabu (11/7). (Dok. KBRI Bandar Seri Begawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 59 warga Indonesia (WNI) yang berada di tiga penjara Brunei Darussalam mendapat kunjungan dari Dubes RI Sujatmiko, Rabu (11/7).

Pada kesempatan tersebut sejumlah WNI yang ditahan meminta bantuan kepada Dubes RI. Di antaranya untuk menagih gaji kepada para majikan mereka.

Sebagian besar WNI ditahan akibat kasus keimigrasian dan cukai. Meskipun ada pula yang terlibat kasus kejahatan seperti pencurian, perampokan serta pembunuhan.


"Kami senang KBRI berkunjung, sangat membantu mereka yang tidak pernah dikunjungi keluarganya," ujar Pengiran Roslinawati, Kepala Penjara Khusus Perempuan di Jerudong.


Dubes RI menyatakan pihak KBRI dari waktu ke waktu akan mengunjungi para WNI yang ditahan guna memberikan dukungan moril kepada mereka.

"Terima kasih kepada pihak penjara karena telah menjaga dan memperlakukan warga kami dengan baik di sini," kata Dubes Sujatmiko kepada Abdul Azim, Wakil Kepala Penjara di Maraburong.

Sujatmiko mengapresiasi pembinaan yang dilakukan oleh pihak penjara kepada para napi, seperti memberikan pelatihan keterampilan bertani dan pertukangan.

Dubes RI mengaku bahwa dirinya sebenarnya malu dengan keberadaan para WNI di dalam penjara ini, namun yakin bahwa banyak faktor yang menyebabkan mereka terlibat berbagai kasus.


Hal ini diamini oleh H. Mohd. Isamudin Bin Abdullah Junna, Kepala Penjara Khusus Laki-laki di Jerudong, yang menyatakan tidak sedikit yang terlibat masalah akibat pengaruh dari pihak lain.

Sujatmiko mengingatkan bahwa keadaan saat ini harus diterima dengan kesabaran, tidak perlu disesali, tapi tidak boleh diulangi lagi.

"Lebih baik pulang ke Indonesia, bekerja di sana," kata mantan Dubes RI untuk Sudan tersebut,  menjawab pertanyaan salah satu napi.

Berdasarkan peraturan Brunei, orang asing yang pernah dijatuhi hukuman akan dideportasi dan ditolak masuk kembali ke Brunei.


Sujatmiko kemudian menambahkan bahwa saat ini pemerintah Indonesia tengah giat-giatnya membangun, dan kondisi ini membuka peluang pekerjaan bagi yang bekerja giat dan tidak mengharapkan hasil instan.

"Kami berterima kasih atas perhatian dan kunjungan bapak Duta Besar," kata AR, salah satu napi yang akan bebas pada akhir tahun 2018, mengatasnamakan teman-temannya sesama napi.

AR dan napi lainnya kemudian meminta bantuan kepada KBRI untuk berbagai hal, seperti meminta gaji yang belum dibayar oleh majikan sebelumnya dan meminta menguruskan barang-barang miliknya yang masih tertinggal di tempat tinggal sebelumnya.

Dubes Sujatmiko menanggapi dengan menyampaikan bahwa KBRI Bandar Seri Begawan akan berupaya membantu para WNI semaksimal mungkin.

(nat)