Usai bertemu Menlu RI Retno Marsudi di Jakarta, Senin (23/7), Saifuddin mengatakan rencana ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Kuala Lumpur terhadap penguatan hubungan kedua negara, terutama dalam hal perlindungan WNI di Malaysia.
"Kerajaan Malaysia bersedia fasilitasi keperluan menumbuhkan sekolah Indonesia di Malaysia. Saat ini sudah ada [sekolah Indonesia] di Kuala Lumpur dan Johor. Indonesia meminta untuk kembali bangun sekolah di Sabah, jadi kita juga akan fasilitasi ini," kata Saifuddin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu jika bicara masalah akses, pendidikan adalah bagi seluruh masyarakat termasuk anak-anak TKI juga di Malaysia. Jadi Indonesia dan Malaysia akan menindaklanjuti rencana ini," ucap Retno.
Meski begitu, pertemuan Retno dan Syaifuddin tak memperjelas nasib negosiasi perbaruan nota kesepahaman (MoU) soal Perlindungan Tenaga Kerja antara Indonesia dan Malaysia.
Mou yang telah kedaluarsa sejak 2016 lalu ini menjadi instrumen utama pemerintah Indonesia untuk melindungi TKI dari risiko bermasalah denga hukum Malaysia hingga eksploitasi serta kekerasan.
Selain masalah TKI, dalam pertemuan itu Retno juga meminta Kuala Lumpur untuk selalu memberi notifikasi diplomatik kepada Jakarta jika mendapati WNI yang terkena masalah hukum di Negeri Jiran.
Retno menganggap notifikasi diplomatik bisa sangat mempermudah pemerintah Indonesia menangani masalah WNI tersebut.
"Notifikasi diplomatik penting bagi kami jika terdapat kasus yang melibatkan WNI. Malaysia menanggapi permintaan ini dengan sangat baik."
Sebab, kedua negara merupakan negara produsen sawit terbesar bagi Benua Biru tersebut.
(aal)