Senandung Sunyi La Estrella, Desa yang Ditinggalkan Warganya

REUTERS/Susana Vera, CNN Indonesia | Kamis, 26/07/2018 07:15 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Selama lebih dari 30 tahun, Juan Martin Colomer dan istrinya, Sinforosa Sancho tinggal berdua saja di sebuah desa yang terletak di dataran tinggi di Spanyol.

Desa La Estrella bermandi cahaya matahari pagi dikelilingi pegunungan Spanyol. Terletak di lembah wilayah Aragon, dimana serbuk sari beterbangan di atas pepohonan pinus, yang lalu menyebar ke atas lahan yang dulunya ditanami, desa itu terletak di tengah gurun yang sunyi.
Sinforosa Sancho, 84, dan suaminya Juan Martin Colomer, 84, berjalan di sepanjang jalanan utama Desa La Estrella. Desa itu pernah dihuni lebih dari 200-an orang.
Warga mulai pergi dari pedesaan dan pindah ke kota saat perang saudara berakhir pada 1939, meninggalkan wilayah seluas dua kali ukuran Belgia dan menjadi wilayah paling tak berpenghuni di Uni Eropa.
Tiap kilometer persegi hanya dihuni kurang dari delapan penduduk, dan mereka yang tetap tinggal pun menua. Sebuah contoh perubahan masyarakat secara drastis dimana tingkat kematian melampaui jumlah kelahiran tercepat sejak mulai dicatat pada 1941.
Pasangan tersebut hidup dengan uang pensiun sebesar 1.200 euro per bulan.
Mereka memelihara kelinci dan ayam untuk diambil daging dan telurnya, lalu pergi ke kota terdekat untuk membeli makanan lain yang dimasak di atas kompor butana atau perapian terbuka.
Hingga 10 tahun lalu, mereka bergantung pada lampu minyak saat membutuhkan cahaya buatan pada kesempatan yang langka. Kini mereka memiliki panel surya untuk menghasilkan listrik.
Tidak merindukan masyarakat, dan meskipun memiliki rumah lain di desa terdekat, Vilafranca, pasangan tersebut hanya pergi ke sana untuk mengunjungi putra mereka Vicente dan keluarganya.