Hal ini diungkap oleh Shahbaz Sharif, pemimpin Liga Muslim-Nawaz (PML-N). Pria yang masih berhubungan saudara dengan mantan pemimpin Pakistan yang saat ini dipenjara, Nawaz Sharif, itu beralasan penolakan dilakukan karena penghitungan suara masih terus berlangsung.
"Hari ini apa yang mereka lakukan telah mendorong Pakistan kembali 30 tahun ... Kami menolak hasil ini," jelas Shahbaz Sharif, dalam konferensi pers di Lahore, Pakistan, seperti dikutip AFP, Rabu (25/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu partai lain termasuk Partai Rakyat Pakistan (PPP) juga menuduh bahwa hasil perhitungan suara telah dimanipulasi. Menurut mereka manpulasi itu terjadi ketika proses perhitungan suara yang berjumlah besar itu dilakukan oleh pekerja Pemilu sehingga cenderung terjadi kesalahan.
"Kandidat saya mengeluhkan bahwa agen pemungutan suara mereka telah dikeluarkan dari tempat pemungutan suara (TPS) di berbagai daerah," seperti dicuitkan pimpinan PPP Bilawal Bhutto Zardari. Ia menambahkan, "(Perlakuan ini) keterlaluan dan tak termaafkan".
Meski demikian, Sekretaris Komisi Pemilihan Babar Yaqoob sebelumnya dengan tegas membantah tuduhan adanya manipulasi jumlah suara.
Tuduhan kecurangan datang setelah terjadinya bom bunuh diri di kota barat daya Quetta. Kelompok Negara Islam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa yang menewaskan sedikitnya 31 orang.
Pejabat setempat mengatakan pengeboman terjadi ketika pelaku bom mencoba memasuki sebuah pos polisi. Polisi mencoba menghentikannya dan dia meledakkan dirinya sendiri.
Pemilu di Pakistan menjadi area pertempuran antara partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) yang mengusung Imran Khan dan PML-N yang merupakan partai dari perdana menteri terguling Nawaz Sharif.
Sementara satu partai lagi, PPP, bisa berkoalisi dengan partai pemenang manapun. PPP dikepalai oleh Bilawal Bhutto Zardari. Ia adalah putra dari perdana menteri Pakistan yang tewas terbunuh, Benazir Bhutto.
[Gambas:Video CNN] (eks)