Ke-55 peti, yang dikirimkan Korea Utara pada pekan lalu, dijadwalkan akan dikirimkan dengan upacara resmi di Pangkalan Udara Osan, Korea Selatan, sebelum diangkut pesawa C-17 Rabu sore dan dikirim ke laboratorium militer di Hawaii untuk diidentifikasi.
Jenazah itu direpatriasi di bawah perjanjian historis yang dicapai Presiden Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, proses identifikasi jenazah bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, kata sejumlah pakar.
Seorang pejabat pertahanan AS menyatakan hanya satu tanda identitas tentara yang dikembalikan bersama jenazah potensial, dan belum jelas siapa yang berada di dalam setiap peti.
Presiden Amerika Serikat Mike Pence pergi ke Hawaii untuk menyambut pengembalian jenazah itu ke tanah AS.
Amerika Serikat berulang kali menegosiasi pengembalian jenazah tentara yang gugur saat membela komando Perserikatan Bangsa-Bangsa itu.
Menurut Kementerian Pertahanan AS, 7.697 personel dari konflik Korea masih dinyatakan hilang, 5.300 di antaranya diyakini berada di bagian utara zona demiliterisasi yang memisahkan Korut dan Korsel.
Jenazah 340 tentara telah diserahkan Korea Utara sejak 1990. AS menghentikan upaya bersama dengan Korut terkait hal ini di era pemerintahan George W Bush, ketika dialog dengan Pyongyang runtuh.
Para pengkritik menyebut kesepakatan antara Trump dan Kim tidak spesifik dalam hal hulu ledak dan peluru kendali balistik Pyongyang, tapi Trump dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo terus mendorong kesabaran.
(aal)