AS akan Hapus Pemeriksaan Penumpang di Bandara Kecil

CNN, CNN Indonesia | Jumat, 03/08/2018 10:44 WIB
AS akan Hapus Pemeriksaan Penumpang di Bandara Kecil Bandara Dulles, Washington DC, Amerika Serikat. (Mark Wilson/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) berencana menghilangkan prosedur pemeriksaan penumpang di bandara-bandara kecil di seluruh Amerika Serikat.

Dalam laporan eksklusif CNN, Kamis (2/8), rencana itu jika benar akan mengubah sistem perjalanan udara yang telah diterapkan dua dekade terakhir, saat TSA dibentuk untuk merespons serangan teroris 11 September 2001. Rencana itu terungkap di tengah upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang meningkatkan pemeriksaan barang-barang seperti laptop dan tablet.

Dokumen internal yang diperoleh CNN dari kelompok kerja TSA menyatakan rencana penghapusan pemeriksaan di bandara menengah dan kecil, yang menampung pesawat berukuran 60 kursi atau lebih kecil. Bandara kecil dan menengah tersebut dianggap sedikit atau tidak memiliki risiko keamanan.


Dokumen internal pada Juni dan Juli melaporkan langkah itu bisa menghemat bahwa US$115 juta per tahun. Dananya bisa digunakan untuk memperkuat bandara yang lebih besar.

Rencana itu telah menuai reaksi dari politisi, awak pesawat dan penumpang. Rata-rata menyampaikan penolakan.

"Rencana TSA untuk menghapus pemeriksaan keamanan penumpang, tanpa detektor logam di bandara jelas akan membuka kemungkinan serangan teror," kata pemimpin minoritas Senat, Chuck Schumer, asal Demokrat New York.



Serikat pekerja awal pesawat bertekad untuk melawan langkah yang melemahkan keamanan penerbangan. "Kami akan menolak penghapusan TSA dari bandara, tak peduli. besar atau kecil," kata Asosiasi Pramugari dalam sebuah pernyataan. "TSA, bersama pekerja penerbangan membantu kita agar tetap aman. Kami berjanji untuk tidak melupakan apa yang terjadi pada 11 September."

Menurut rencana penghapusan pemeriksaan TSA, para penumpang dan bagasi dari bandara-bandara kecil baru akan diperiksa setibanya mereka di bandara yang lebih besar.

Paul Cruickshank, seorang analis terorisme di CNN mengatakan bahwa ia "terpukau bahwa prosedur ini masih dibahas."

"Sektor penerbangan menjadi sasaran bagi kelompok teroris Al-Qaeda dan ISIS dan ini termasuk pesawat terbang yang menampung setidaknya 60 orang," katanya.

"Mereka menganggap ini akan menjadi berita utama. Mereka akan menganggap ini sebagai cara untuk menyebabkan menurun performa ekonomi Amerika Serikat. Jika anda mendengar tentang pesawat yang berisi sekitar 50 penumpang telah diledakkan di tengah penerbangan, akibatnya adalah kepanikan antara masyarakat dan dampak yang besar terhadap aktivitas ekonomi dan tentunya, banyak korban yang tewas."

"Ini sangat berbahaya," kata seorang pemimpin TSA di bandara yang besar. Ia tidak diizin untuk membahas isu ini secara umum.

Dua pejabat senior TSA, yang minta namanya dirahasiakan mengaku prihatin atas rencana tersebut. Mereka menyatakan rencana itu telah dibahas sejak 2011 dan kembali diangkat.

Isi dokumen ditujukan kepada 150 bandara kecil dan beberapa yang berukuran sedang. Menurut situs TSA, mereka memeriksa penumpang di 440 bandara.

Kelompok kerja menemukan bahwa perubahan dalam prosedur akan mempengaruhi 10,000 penumpang yang diperiksa oleh 1,299 karyawan TSA tiap hari, atau rata-rata 0,5 persen penumpang yang diberangkatkan dari bandara Amerika Serikat.

Laporan ini tidak mencantumkan nama bandara yang akan terpenggaruh oleh perubahan prosedur ini.

Juru bicara TSA Michael Bilello mengatakan bahwa penelitian tersebut menggambarkan perbincangan yang sudah lama berlangsung mengenai persyaratan legal agensi TSA.

"Ini bukan isu yang baru," katanya melalui email. "Peraturan yang telah didirikan TSA tidak menuntut jumlah pemeriksaan tertentu, jadi dalam setiap tahun kami akan membahas prosedur pemeriksaan." Biello tidak memberi balasan kepada permintaan dokumen mengenai peraturan.

Dua pejabat senior TSA mengatakan bahwa tahun ini, pembahasan sekitar proposal - membentuk penelitian analisa resiko dan biaya.

Isu Keamanan dalam Bandara Kecil

Rencana penghapusan prosedur keamanan di bandara lokal mengingatkan masalah serangan terkoordinasi yang menyebabkan dibentuknya TSA.

Dua dari anggota kelompok penyerang September 11 terbang dari sebuah bandara di Portland, Maine menuju Boston sebelum masuk pesawat American Airlines 11 dimana mereka memaksa untuk memasuki kokpit dan menabrakkan pesawat ke Gedung Utara di World Trade Center.

Walaupun bandara Portland tidak termasuk dalam proposal karena jumlah penumpang yang banyak, kelompok penyerang 9/11 menganggap bandara tersebut tidak seaman bandara yang besar karena ukurannya yang kecil.

Proposal tersebut menyatakan bahwa pesawat kecil tidak akan ditarget teroris. Dokumen-dokumen menyimpulkan bahwa serangan kepada pesawat kecil kemungkinannya karena "potensi untuk mengakibatkan banyaknya korban" akan lebih rendah daripada teroris yang menyerang pesawat yang lebih besar.

Juliette Kayyem, seorang assisten sekretaris untuk urusan pemerintah di Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) di Amerika Serikat saat administrasi Obama, menyatakan bahwa pesawat kecil bisa dijadikan senjata untuk mengakibatkan kehilangan nyawa.

"Masyarakat, senjata, bahan-bahan berbahaya dan semua yang naiki pesawat bisa menjadi resiko," kata Kayyem, yang bekerja sebagai analis CNN. "TSA hanya menganggap bahwa semua ini hanya tentang teror. Padahal, sebuah senjata bisa dibawa ke atas pesawat juga."

Perubahan kebijakan

Proposal yang sedang dibahaskan oleh TSA berbeda dengan prosedur pemeriksaan penumpang kini.

Sejak inspeksi TSA pada 2001, langkah-langkah keamanan di bandara telah ditingkatkan dengan membatasi cairan dan gel yang dibawa dalam tas carry-on, pemeriksaan yang lebih ketat dan memerintahkan penumpang untuk melepas sepatu dan ikat pinggang saat pemeriksaan.

Pada Juni 2017, mantan sekretaris DHS John Kelly mengumumkan larangan penumpang untuk membawa laptop di penerbangan yang telah mempengaruhi 280 bandara di setidaknya 100 negara.

"Teroris ingin menurunkan pesawat untuk menakutkan, menurunkan aktivitas ekonomi dan merusak kehidupan kami," kata Kelly. "Upaya mereka berhasil, dan ini mengapa mereka menjadikan pesawat terbang sebagai sasaran utama."

"Ancaman ini tetap berlanjut. Sesungguhnya, saya sangat khawatir bahwa kita akan melihat daya Tarik baru untuk kelompok teroris membidik sektor penerbangan - dari meledakkan pesawat terbang hingga menyerang bandara."

(sab/nat)