Penembakan di Kanada Terjadi Saat Warga Baru Bangun Tidur

Reuters, AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 11/08/2018 10:20 WIB
Penembakan di Kanada Terjadi Saat Warga Baru Bangun Tidur Rentetan suara tembakan dalam insiden penembakan di Kanada mengagetkan warga sekitarnya pada Jumat (10/8) pagi. Empat tewas, dua di antaranya polisi. (REUTERS/Dan Culberson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rentetan suara tembakan dalam insiden penembakan di Kanada mengagetkan warga sekitarnya pada Jumat (10/8) pagi. Empat orang tewas, termasuk dua polisi dalam insiden penembakan di Brookside, Fredericton, New Brunswick.

"Saya terbangun dan mendengar suara tembakan lalu melihat ke luar jendela," kata Justin McLean, seperti ditayangkan stasiun televisi Kanada, CBC.

Fredericton, kota berpenduduk 56 ribu adalah Ibu Kota Provinsi New Brunswick.


"Polisi menempatkan salah satu petugas dalam kendaraan yang membawa mereka ke tempat yang aman," kata McLean yang mengaku ingin membantu tapi petugas menyuruhnya untuk berlindung.

"Saya tidak pernah melihat si penembak, hanya laras senjatanya menyembul keluar dari jendela," kata dia seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (11/8).



Saksi lain juga mengaku baru bangun tidur saat mendengar suara tembakan. "Saya takut," kata Marlene Weaver, yang masih berbaring di tempat tidurnya saat mendengar suara tembakan. "Itu mengingatkan Anda pada penembakan di Moncton."

Kejadian Moncton adalah insiden pada 2014 saat tiga polisi gunung Kanada ditemukan tewas dan dua laki luka-luka. Kota itu terletak 195 kilometer dari Fredericton, dan merupakan salah satu insiden penembakan terburuk di Kanada.

Dua polisi yang tewas diidentifikasi sebagai Lawrence Robert Costello, 45 tahun, dan Sara Mae Helen Burns, 43 tahun. Dua nama warga sipil yang menjadi korban tidak disebutkan. Salah satunya disebut sebagai tersangka, warga Fredericton berusia 48 tahun. Tidak disebutkan pula motif atau senjata penembakan.

Polisi Fredericton mengatakan rekan-rekannya yang tewas adalah petugas yang merespons panggilan darurat yang melaporkan insiden penembakan tersebut. Mereka menemukan dua warga sipil terbaring di tanah tak bernyawa.

Burns, yang baru dua tahun bergabung di kepolisian memiliki tiga anak. Costello, veteran yang 20 tahun mengabdi di kepolisian memiliki empat anak.



Jeff Magnussen, manajer lapangan golf di dekat lokasi penembakan mengaku mendengar serentetan tembakan sebelum pukul 8 pagi waktu setempat, Jumat.

"Anda mendengar banyak soal kekerasan di Amerika Serikat," kata dia seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (11/8). "Tapi pagi ini saat saat mendengar suara keras itu, yang teringat adalah mereka yang kehilangan nyawanya, terjadi di dekat kita, sungguh mengejutkan. Kita menjadi cerita yang tidak ingin didengar siapapun."



Saksi lainnya mengatakan sedang berjalan-jalan dengan anjingnya di lapangan golf saat seorang karyawan menyuruh dia masuk karena penembakan itu. Scott Hill mengaku masih mendengar suara tembakan sporadis dari apartemen dua jam kemudian, saat dia berada di kantornya, sebuah agen pengembangan properti.

"Hal semacam ini tidak pernah terjadi di sini," kata Hill.

Sejak peristiwa penembakan di Toronto, 22 Juli lalu. Dewan Kota mendesak pemerintah federal Kanada, yang memiliki yuridiksi atas undang-undang senjata untuk melarang penjualan senjata di kota.


"Mengapa ada orang di kota ini yang perlu memiliki senjata," kata Wali Kota Toronto, John Tory, kala itu. Kota terbesar di Kanada tersebut telah mengalami 241 insiden penembakan tahun ini, yang menyebabkan 30 kematian, naik 30 persen pada periode sama tahun lalu.

Pada 2016, di Kanada terdapat 0,61 persen pembunuhan terkait senjata api, naik 23 persen dari 2015, dan angka tertinggi sejak 2005, menurut Data Statistik Kanada. Adapun di Amerika Serikat, Universitas Washington melaporkan 3,85 kematian per 100 ribu pada tahun itu.

(nat)