Seorang pejabat China mengatakan komite hak asasi manusia PBB di Jenewa, Swiss, bahwa keamanan ketat yang diterapkan di Xinjiang--wilayah dihuni etnis Uighur muslim, diperlukan untuk memerangi terorisme dan ekstremisme. Meski begitu, China tidak menargetkan satu grup secara spesifik atau pun membatasi kebebasan beragama.
Di tahap awal peninjauan terhadap China, pada Jumat lalu, salah satu dari 18 anggota komite, Gay McDougall, menyuarakan keprihatinan mendalam pada banyak "laporan terpercaya" bahwa China sudah mengubah kawasan itu menjadi "sesuatu yang menyerupai kamp tahanan besar-besaran".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut pernyataan McDougall 'berlawanan dengan fakta.'
Wilayah Xinjiang, yang berbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan, sudah bergolak sejak puluhan tahun lalu. Banyak warga Uighur yang mengklaim mereka ditekan oleh Beijing, dengan larangan memelihara janggut, memakai jilbab, serta mendistribusikan Alquran secara tidak sah.
China, sementara itu memperketat keamanan di daerah itu dengan dalih ektremisme dan terorisme. (stu)