Laporan Dewan Juri AS Menemukan 300 Pastor Melecehkan Anak

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 18:13 WIB
Laporan dewan juri pengadilan Pennsylvania, AS, menemukan bukti 300 pastor Katolik melecehkan lebih dari 1.000 anak secara seksual di negara bagian itu. Ilutrasi (REUTERS/Ezra Acayan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laporan menyeluruh satu dewan juri (grand jury) menemukan laporan yang bisa dipercaya mengenai lebih dari 300 pastor yang melecehkan anak-anak dan berhasil mengidentifikasi lebih dari 1.000 korban pelecehan seksual yang ditutupi oleh Gereja Katolik Pennsylvania, AS.

Belum jelas jumlah kasus baru yang bisa diajukan ke pengadilan setelah laporan yang disebut sebagai penyelidikan paling komprehensif terhadap pelecehan seksual anak di Gereja Katolik yang meliputi hampir semua keuskupan di negara bagian ini.

Laporan ini menemukan ada kesaksian dari puluhan saksi dan dokumen internal gereja sebanyak 1,5 juta halaman yang berisi tuduhan kredibel terhadap 300 pastor pelaku pelecehan seksual anak. Selain itu terdapat lebi dari 1.000 korban yang berhasil diidentifikasi.


Grand jury adalah sekelompok juri yang dibentuk untuk menyelidiki satu tuduhan tertentu sebelum persidangan kasus tersebut yang ada dalam sistem peradilan Amerika Serikat.

Juri ini memperkirakan angka korban sebenarnya mencapai "ribuan," karena banyak catatan dokumen anak-anak yang hilang atau mereka takut mengadukan pelecehan yang dialami.

Akibat keputusan Gereja Katolik menutupi skandal ini, hampir semua aksi pelecehan seksual itu terjadi terlalu lama untuk bisa disidangkan.

Akan tetapi laporan ini merujuk pada setidaknya dua pastor yang melecehkan anak-anak secara seksual dalam satu dekade terakhir.

Sebagian korban adalah anak lelaki dan sedang menjalani masa puber, sebagian dari mereka dikecohkan dengan pancingan minuman beralkohol atau materi pornografi.

Korban itu sebagian dipegang di bagian sensitif atau diperkosa. "Tetapi semua laporan mereka tidak ditanggapi, dari tingkat negara bagian, oleh pemimpin gereja yang memilih melindungi pelaku dan institusinya," tulis laporan itu. (yns/yns)


ARTIKEL TERKAIT