Rakyat Venezuela Pesimistis Sambut Mata Uang Baru

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 21:57 WIB
Rakyat Venezuela Pesimistis Sambut Mata Uang Baru Warga Venezuela menyambut beredarnya uang kertas bolivar yang baru dengan pesimistis. (REUTERS/Carlos Garcia Rawlins)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Venezuela menyambut beredarnya uang kertas bolivar yang baru dengan pesimistis. Mereka tidak yakin kebijakan Presiden Nicolas Maduro untuk memangkas lima angka nol mata uang bolivar bakal berdampak positif terhadap perekonomian yang terpuruk, Selasa (21/8). Uang kertas bolivar yang sudah diredenominasi mulai beredar, Senin (20/8).

Keyakinan itu disampaikan Bruo Choy, 39, seorang pedagang di Ibu Kota Caracas. Menurutnya, redenominasi bolivar tidak akan mengubah situasi perekonomian yang terus melorot. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tingkat inflasi Venezuela pada akhir tahun 2018 mencapai satu juta persen.

"Semuanya akan tetap sama, harga-harga akan terus naik," kata dia seperti dilaporkan kantor berita AFP.


Senada dengan Choy, Angel Arias, seorang pensiunan berusia 67 tahun menyebut permangkasan mata uang itu merupakan sebuah kebohongan.

Primero Justicia, Voluntad Popular, dan Causa R yang merupakan tiga perwakilan dari kelompok oposisi Venezuela telah menyerukan keluhan dan aksi protes, Selasa (21/8).



Namun loyalis Maduro sekaligus presiden badan legislatif yang kontroversial merespons dengan menyatakan bakal menggelar aksi protes tandingan.

Maduro mengatakan bahwa negara perlu untuk menerapkan disiplin fiskal dan menghentikan cetakan uang yang berlebihan selama beberapa tahun terakhir.

Salah satu reformasi Maduro yang paling mengherankan adalah mengaitkan mata uang baru dengan mata uang kripto yang sangat mendiskreditkan perekonomian di negara itu, petro.

Satu petro setara dengan harga satu barel minyak Venezuela U$60. Dalam mata uang baru itu nilainya 3.600 bolivar, mengisyaratkan penurunan nilai mata uang secara besar-besaran.

Nantinya upah minimum akan ditetapkan setengah petro yaitu 1.800 bolivar, sekitar US$28. Maduro juga mengumumkan pembatasan bahan bakar bersubsidi besar dalam upaya untuk mencegah penyelundupan minyak ke negara lain.

Langkah Maduro, mantan sopir bus dan kepala serikat buruh, hampir sama dengan mantan Presiden Hugo Chavez. Sepuluh tahun lalu, Chavez menghapus tiga nol dari bolivar. Kebijakan itu gagal meredam hiperinflasi.

Presiden Nicolas Maduro memamerkan uang kertas baru, bolivar soberano.Foto: Miraflores Palace/Handout via REUTERS
Presiden Nicolas Maduro memamerkan uang kertas baru, bolivar soberano.


Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez bersikeras bahwa program reformasi akan didanai dengan pendapatan minyak, pajak, dan pendapatan dari kenaikan harga bensin.

Berdasarkan laporan analisis perminyakan, Luis Oliveros mengatakan bahwa sejak 2012 lalu, subsidi bahan bakar Venezuela menghabiskan $10 miliar. Tetapi, tanpa mereka, orang tidak dapat membeli bahan bakar.

Tekanan terus terjadi setelah perusahaan minyak terbesar, ConocoPhillips mengatakan bahwa perusahaan minyak Venezuela, PDVSA setuju membayar US$2 miliar untuk menghentikan penyitaan aset-aset Karibia.

Berdasarkan laporan AFP, ConocoPhillips menyita US$750 juta aset PDVSA pada Mei lalu setelah memenangkan dua kasus arbitras internasional melawan Venezuela untuk mengambil alih 'yang tidak sah dan tidak dikompensasikan' dari proyek minyak mentah di negara itu oleh presiden sebelumnya, Hugo Chavez pada 2007.

Awal bulan ini, pengadilan AS juga memutuskan bahwa perusahaan pertambangan Kanada, Crystallex dapat menyita saham di anak perusahaannya yang bermarkas di PDVSA, Citgo untuk melunasi utang senilai $ 1,2 miliar.

Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence menanggapi masalah di Venezuela dengan menulis cuitan di Twitter.

"Rakyat Venezuela menanggung biaya tragis dari korupsi dan rezim Maduro, langkah-langkah baru hanya akan menambahkan pengaruh buruk bagi kehidupan warga Venezuela," tulisnya.

"Nicolas Maduro dan rezimnya sedang mendorong sebuah negara yang pernah maju dan makmur kedalam kehancuran," tulisnya menambahkan.



Sekarang di tahun keempat resesi, Venezuela telah dilumpuhkan karena kekurangan barang-barang pokok seperti makanan, dan obat-obatan. Kemudian layanan publik yang tidak berfungsi termasuk air, listrik dan transportasi.

Produksi minyak dapat menyumbang 96 persen dari pendapatan Venezuela, tetapi merosot ke level terendah selama 30 tahun ini menjadi 1,4 juta barel per hari, dibandingkan dengan rekor tingginya 3,2 juta barel per hari pada 10 tahun lalu. (cin/nat)