UNRWA, Badan Penolong Jutaan Pengungsi Palestina

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 02/09/2018 11:29 WIB
UNRWA, Badan Penolong Jutaan Pengungsi Palestina UNRWA terancam tidak bisa lagi beroperasi, termasuk menyelenggarakan sekolah bagi anak-anak Palestina, setelah AS menghentikan pendanaan. (AFP/Jaafar Ashtiyeh)
Jakarta, CNN Indonesia -- UNRWA adalah badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) yang menjadi tali penyambung hidup bagi jutaan warga Palestina sejak didirikan 70 tahun lalu.

Amerika Serikat yang merupakan donor dana terbesar UNRWA mengumumkan penghentian pendanaan organisasi yang disebutnya "cacat sejak lahir", pada Jumat (31/8).

Badan Bantuan dan Proyek PBB atau UNRWA didirikan pada Desember 1949 oleh Dewan Keamanan PBB setelah pecah perang akibat pendirian negara Israel pada 1948.


Lebih dari 760 ribu warga Palestina menyelamatkan diri dari tentara Yahudi atau dipaksa keluar dari rumah mereka. Sebagian besar dari mereka pindah ke negara-negara tetangga.

UNRWA menjadi satu-satunya penjamin atas status internasional pengungsi Palestina itu.

Badan ini memberi bantuan kepada lebih dari tiga juta, dari lima juta, warga Palestina yang terdaftar sebagai pengungsi. Bantuan itu disalurkan lewat sekolah dan pusat layanan kesehatan di wilayah Palestina serta di Lebanon, Yordania dan Suriah.

Badan ini mengakui 59 kamp pengungsi, 19 diantaranya berada di Tepi Barat yang merupakan wilayah Palestina namun diduduki oleh Israel selama lebih dari setengah abad.

Sekolah-sekolah UNRWA ini memberi pendidikan bagi 520 anak-anak dan menghabiskan 54 persen dari anggaran badan itu.

UNWRA juga menyediakan pusat layanan kesehatan dan bantuan keuangan bagi para pengungsi Palestina

Terdapat lebih dari 20 ribu pegawai UNRWA di Timur Tengah dan sebagian besar adalah warga Palestina.

AS Hentikan Dana

Amerika Serikat adalah pemberi dana terbesar bagi UNRWA dengan jumlah lebih dari US$350 juta.

Donor terbesar kedua adalah Uni Eropa yang menyumbang sekitar setengah dana dari AS ini.

Pada Januari 2018, Washington hanya menyumbang US$60 juta dolar kepada UNRWA

Pada Jumat (31/8), pemerintah Donald Trump mengatakan "Amerika Serikat tidak akan memberi bantuan tambahan kepada UNRWA".

Isrel, yang menyambut baik keputusan AS itu, menuduh UNRWA membuat konflik di Timur Tengah tidak akan berakhir dengan mempertahankan pandangan bahwa jutaan warga Palestina adalah pengungsi yang berhak kembali ke rumah yang telah ditinggalkan oleh leluhur mereka atau diusir.

Namun, Komisaris Jenderal UNRWA Pierre Kraehenbuel mengatakan pada Kamis (30/8) bahwa badan ini memiliki peran penting hingga solusi akhir konflik Palestina-Israel dicapai.
UNRWA, Badan Penolong Jutaan Pengungsi PalestinaIsrael yang terus terlibat bentrokan dengan warg Palestina menyambut baik keputusan AS menghentikan dana bagi badan PBB UNRWA.(REUTERS/Mohamad Torokman)


Palestina mengkritik langkah AS ini dan tudingan Israel dengan merujuk kepada fakta bahwa Israel menerima bantuan militer sebesar US$3 miliar per tahun.

Pejabat senior Palestina, Hanan Ashrawi, menggambarkan penghentian dana dari AS ini sebagai langkah "kejam dan tidak bertanggung jawab".

Balasan Serius

UNRWA sudah kekurangan dana jauh sebelum pengumuman penghentian pendanaan dari pemerintah Donald Trump.

Badan ini sekarang hanya dibiayai dengan bantuan dana sukarela dari negara anggota PBB.

Pada 2015, badan ini hampir menutup seluruh sekolah miliknya karena kekurangan dana, dan mengalami defisit anggaran sebesar puluhan juta dolar tahun lalu.
UNRWA, Badan Penolong Jutaan Pengungsi PalestinaUNRWA mengatakan operasi badan itu yang juga meliputi penyelenggaraan sekolah bagi anak Palestina terancam berhenti akibat penghentian dana dari AS. (AFP/Mahmud Hams)
Pada Agustus 30, Yordania mengumumkan rencana konferensi untuk mendukung badan yang memerlukan dana setidaknya US$200 juta pada akhir tahun ini. Konferensi internasional itu akan diadakan pada 27 September mendatang. Jerman telah mengumumkan penambahana sumbangan dalam jumlah "besar" untuk membantu organisasi ini

Mahmoud Mubarak, direktur komite yang menjalankan 19 kamp pengungsi di Tepi Barat tempat sekitar 500 ribu warga Palestina tinggal, memperingatkan akan "balasan serius" dari keputusan AS ini.

Sementara itu, Juru Bicara UNRWA Chris Gunnes memperingatkan bahwa "UNRWA tidak akan memiliki dana sedikitpun" pada akhir September. (yns/yns)