Ratusan warga tersebut memasang tenda protes di dekat Erez, satu-satunya jalur penyebrangan antara Israel-Palestina, pada Selasa (4/9). Para pedemo turut membawa papan dan poster bertuliskan "Bersama Lindungi Hak-Hak Pengungsi."
"Trump ingin membuat kami kelaparan!" kata Inshirah Abu Aamsha, seorang warga di Beit Hanoun, kepada Middle East Eye. "Di sini, di Gaza, situasi kami berbeda dengan warga Palestina lainnya di Yordania dan Libanon, karena kami hidup di bawah kepungan. Keadaan ini membuat tidak mungkin untuk hidup di sini."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (AS) ingin membuat kami menyerah, tapi kami akan terus berdemo dan membuat tekanan," kata Mudiq.
"Jika mereka ingin menutup UNRWA, maka biarkan kami kembali ke tanah kami sendiri."
UNRWA memastikan jutaan pengungsi tersebut, mendapat akses pendidikan, kesehatan, serta penampungan yang layak. Sebagian besar pengungsi merupakan anak-anak dan perempuan.
AS dan Uni Eropa merupakan pendonor terbesar UNRWA. Kontribusi keduanya mewakili 41 persen dana sumbangan yang selama ini diterima UNRWA.
Dihentikannya donasi AS terancam membuat UNRWA kekurangan dana. UNRWA bahkan menyebut pihaknya telah kekurangan lebih dari US$200 juta setelah Gedung Putih memangkas dana bantuannya pada awal tahun ini.
"Banyak pengungsi Palestina tidak bisa mencari pekerjaan, atau dibayar dengan upah kecil. Bagaimana kami bisa menyekolahkan anak-anak tanpa bantuan UNRWA?" ucap Ziad Shtewi (63), pengungsi Palestina di Libanon, seperti dikutip Reuters.
"Anak-anak ini akan berada di jalanan. Mereka akan menjadi generasi yang tidak berpendidikan dan ini akan menjadi kehidupan yang sangat buruk. Pendidikan sangat kritis bagi masa depan mereka."
Sejauh ini UNRWA mengoperasikan sebanyak 66 sekolah di seluruh Libanon. Negara itu telah menampung lebih dari setengah juta pengungsi Palestina yang sebagian besar merupakan korban perang 1948, seperti dilaporkan Middle East Eye. (eks)