Bantah Tulis Artikel Makar, Wapres AS Siap Tes Kebohongan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Senin, 10/09/2018 16:58 WIB
Bantah Tulis Artikel Makar, Wapres AS Siap Tes Kebohongan Wapres AS, Mike Pence, menyatakan siap menjalani tes kebohongan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan penulis artikel anonim berisi ancaman penggulingan Donald Trump. (Andrew Harnik/Pool Via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, menyatakan siap menjalani tes kebohongan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan penulis artikel anonim berisi cerita mengenai "pemberontakan" dalam Gedung Putih untuk menggulingkan Presiden Donald Trump.

"Saya setuju untuk melakukan tes kebohongan pada jantung saya dan bersedia mengajukan peninjauan apa pun yang diinginkan pemerintah," ucap Pence kepada Fox News seperti dikutip The Independent, Senin (10/9).

Meski begitu, Pence mengatakan kewenangan sepenuhnya berada di tangan Trump untuk memerintahkan para pejabatnya mengikuti uji kebohongan itu atau tidak.
"Individu ini (perlu) mengakui bahwa mereka sudah benar-benar melanggar sumpah. Jika penulis merupakan pejabat senior pemerintahan, mereka melanggar sumpah bukan saja hanya kepada presiden, tapi juga kepada konstitusi negara," ucap Pence.


"Orang-orang yang telah mengambil sumpah-dan secara harfiah mengatakan bahwa mereka bekerja setiap hari untuk membuat presiden frustrasi-adalah tindakan yang tidak demokratis. Ini bukan soal menipu, tapi benar-benar sebuah serangan bagi demokrasi kita. Orang itu harus mengundurkan diri."

Artikel itu ditulis oleh seorang yang mengaku pejabat senior AS, bagian dari "pemberontak" pemerintahan Trump, dan dirilis oleh The New York Times awal pekan ini.
Pence menilai artikel itu dibuat untuk "mengalihkan perhatian" dari pencapaian pemerintahan Trump.

Pernyataan itu diutarakan Pence menanggapi sejumlah tudingan yang menyebut bahwa dia lah pejabat Gedung Putih yang paling berpotensi menulis artikel makar tersebut.

Dugaan itu muncul setelah sejumlah analis mengatakan bahwa tulisan tersebut kerap menggunakan kata "lodestar" atau pedoman, sebuah kata yang kerap digunakan Pence saat berpidato.
Dalam artikel itu, penulis mengklaim bahwa banyak pejabat Gedung Putih bersekongkol untuk menggulingkan Trump, salah satunya dengan cara menggagalkan serta melemahkan kewenangan Presiden ke-45 itu.

Sang penulis bahkan mengklaim ketika awal Trump berkuasa, beberapa pejabat secara diam-diam membahas kemungkinan mengajukan amandemen Konstitusi AS ke-25. Mereka mencari kemungkinan pemecatan seorang presiden ketika dinilai tidak kompeten.

Pence menyebut artikel tersebut berisiko mengancam keamanan nasional. Dia menganggap penulis merupakan pejabat senior AS yang tidak mencerminkan warga Amerika.

Senada dengan Trump, Pence menyebut pemerintah tengah menyelidiki peluang untuk memproses hukum penulis artikel tersebut.

"Kami akan mencari tahu apakah ada aktivitas kriminal terkait hal ini. Saya pikir perhatian Presiden adalah bahwa sang penulis memiliki tanggung jawab terhadap keamanan nasional," tutur Pence.
Tak lama setelah tulisan itu terbit, Trump meresponsnya dengan menganggap bahwa artikel itu sebagai upaya makar.

Dia kemudian mempertanyakan kebenaran identitas sang penulis editorial terbuka tersebut dan meminta The New York Times segera melaporkannya.

Trump belakangan bahkan berniat menyelidiki The New York Times jika surat kabar itu tak lekas mengungkap identitas sang penulis. (has)