Presiden Marah, Kacang Mete Tak Jadi Kudapan di Srilankan Air

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 13/09/2018 05:30 WIB
Presiden Marah, Kacang Mete Tak Jadi Kudapan di Srilankan Air Setelah insiden kacang Korean Air, kudapan kacang di pesawat kembali menjadi masalah dan kali ini melanda Srilankan Airlines. (Ilustrasi kacang mete/iStock/salez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maskapai penerbangan nasional Sri Lanka, Srilankan Airlines,  menghentikan kudapan kacang mete setelah presiden negara itu marah besar karena sajian kudapan ini dalam penerbangan menuju Colombo.

"Dalam penerbangan dari Kathmandu, saya mendapat sajian kudapan kacang mete di pesawat Srilankan Airlines, rasanya sangat tidak enak, anjing pun tidak akan mau memakannya," kata Maithripaia Sirisena, Senin (10/9).

"Saya ingin tahu siapa yang memberi otorisasi pembelian kacang itu," kata presiden di hadapan para petani.


Juru bicara maskapai ini mengatakan pada Rabu (12/9) bahwa perusahaan itu bereaksi dengan membuang seluruh pasok kacang mete, yang hanya disajikan untuk penumpang kelas bisnis. Disebutkan juga bahwa perusahaan ini akan mengganti pemasok kacang itu yang kini berbasis di Dubai.

Ini bukan kali pertama kudapan kacang yang disajikan oleh maskapai penerbangan menyebabkan kemarahan.

Pada 2014, seorang puteri pemilik maskapai Korean Air memerintahkan pesawat kembali ke pintu bandara untuk menurunkan seorang awak pesawat yang menyajikan kacang dalam plastik kepadanya.

Putri pemilik maskapai ini kemudian minta maaf dan mengundurkan diri meski dia sempat terancam dipidana karena perilakunya itu. 

Bulan lalu, pemerintah Sri Lanka kembali mencari investor modal untuk maskapai penerbangan nasional yang memiliki hutang besar setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perusahaan itu menyebabkan masalah ekonomi bagi negara tersebut.

Upaya menjual Srilankan Airlines  kepada pihak Swasta pada Mei tahun lalu gagal setelah perusahaan investasi AS menarik tawaran untk membeli 49 persen sahamnya.

Maskapai penerbangan ini sebelumnya merupakan perusahaan menguntungkan, namun saat Mahinda Rajapakse menjadi presiden kesepakatan kerjasama dengan maskapai Emirates dibatalkan pada 2008 karena ada persilihan pribadi.

Saat itu, maskapai itu menolak mengambil kursi dari penumpang yang sudah membeli tiket untuk diserahkan kepada keluarga Rajapakse.

Rajapakse kemudian mengganti direktur utama maskapai itu yang ditunjuk oleh Emirates dan memilih iparnya Nishantha Wickremasinghe memimpin perusahaan milik negara itu.

Wickremasinghe saat ini sedang diselidiki atas dutaan korupsi dan salah urus perusahaan. (yns/yns)


ARTIKEL TERKAIT