Berkostum jas putih serta seragam operasi berwarna biru sambil memegang mawar, para demonstran berkumpul di depan rumah sakit di Atme, dekat perbatasan Turki.
Para demonstran di Atme juga melambaikan bendera revolusi Suriah serta plakat dalam bahasa Inggris yang berbunyi "PBB, melindungi kami adalah tanggung jawab Anda."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Staf medis netral. Kami merawat warga sipil yang terkena dampak serangan udara Rusia dan Suriah," ucapnya kepada AFP.
PBB menyatakan bahwa serangan udara yang terjadi pada 6 September lalu menghantam sebuah rumah sakit yang didukung oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kafr Zita, sebuah kota di provinsi Hama, menyebabkan fasilitas itu berhenti beroperasi.
Menurut Observatori, dua hari setelah gempuran terhadap rumah sakit di Hama, serangan lainnya menghantam dan merusak rumah sakit bawah tanah di pinggiran Hass, Idlib.
[Gambas:Video CNN]
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan pada Jumat (14/9) bahwa rezim Suriah tidak mempersiapkan serangan besar ke Idlib dan akan melakukan segala daya upaya untuk melindungi warga sipil.
Namun, PBB dan organisasi non-pemerintah lainnya tetap memperingatkan bahwa serangan seperti itu akan membuat "pertumpahan darah" dan bencana kemanusiaan di Idlib.
Perang sipil Suriah dimulai pada 2011 lalu, ketika rezim Assad menindak keras para demonstran pendukung demokrasi. Konflik terus berkembang hingga melibatkan kelompok ekstremis dan teroris.
Perang itu telah menewaskan 360.000 orang dan memaksa jutaan orang meinggalkan rumah mereka. (cin/has)