Macron juga menyinggung pidato Trump di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebut AS menolak globalisme dan menganut nasionalisme. Trump menyebut kedaulatan dan kepentingan AS di atas segala-galanya.
"Saya tidak pernah berhenti menegakkan prinsip kedaultan bahkan dalam menghadapi gerakan nasionalisme tertenu yang kita lihat bersama hari ini, mengutamakan kedaulatan untuk menyerang negara lain," ujar Macron saat berpidato di hadapan 192 negara anggota PBB Selasa (26/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pidatonya, Macron juga mengatakan gerakan nasionalisme yang berlebihan bisa mengarah pada kekalahan. Pernyataan itu didasarkannya melihat sejarah perang dunia di Eropa.
Presiden berusia 40 tahun itu juga memaparkan bahwa "perjanjian bilateral, kebijakan proteksionisme baru, tidak akan berfungsi," di saat situasi global membutuhkan kerja sama multilateral.
Lihat juga:Trump Kecam Iran dalam Sidang PBB |
Pernyataan itu diutarakan Macron tak lama setelah Trump lebih dulu membacakan pidatonya di depan majelis umum.
Selain membanggakan pencapaian pemerintahannya selama dua tahun terakhir, Trump juga membanggakan sejumlah keputusan kontroversial seperti menerapkan tarif tinggi bagi produk impor sejumlah negara terutama China, penerapan sanksi terhadap Iran, dan keluarnya AS dari sejumlah organisasi internasional.
Lihat juga:Trump Banggakan Pencapaian, PBB Tertawa |
"Sejauh yang AS ketahui, ICC tidak memiliki kewenangan, legitimasi, dan otoritas. ICC yang selama ini mengklaim memiliki yurisdiksi terhadap hampir seluruh warga di setiap negara di dunia, melanggar semua prinsip keadilan dan proses hukum," ujar Trump.
"Kami tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan Amerika kepada birokrasi global yang tidak akuntabel dan tidak dapat dipertanggungjawabkan." (rds/eks)