"Saya tidak pernah meminta dia (Mahathir) meminta maaf. Saya selalu tegas bahwa saya merasa puas dengan sikap dan kesiapannya bekerja dengan saya. Lupakan masa lalu dan melihat ke depan," kata Anwar kepada wartawan seperti dikutip The Straits Times, Rabu (3/10).
"Anda atau mungkin BBC yang sebenarnya menuntutnya permintaan maaf."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya katakan saya telah memaafkan dia (Mahahtir), bahkan Najib secara personal. Meski begitu, Najib tetap harus menghadapi masalah soal penyalahgunaan dana publik-ini hal yang berbeda," ucap Anwar.
"Tapi menurut saya, hubungan dengan Mahathir, tidak perlu disamakan karena dia berkomitmen terhadap agenda reformasi. Dia telah merangkul saya sebagai mitra dalam membawa agenda reformasi. Itu sudah cukup."
Pernyataan itu diutarakan Anwar menanggapi pernyataan Mahathir saat diwawancarai BBC HARDtalk pada Selasa (2/10) lalu.
"Saya tidak pernah mengatakan (maaf), orang lain yang mengatakan itu atas nama saya karena mereka ingin saya meminta maaf," ujar Mahathir.
"Saya tidak pernah meminta maaf secara resmi kepadanya (Anwar)."
Relasi Anwar dan Mahathir bisa dibilang sangat kompleks. Anwar pernah menjadi wakil PM era Mahathir 1993-1998 sebelum akhirnya dipecat.
Tak lama setelah itu, Mahathir menjebloskan Anwar ke penjara. Saat itu, Anwar dituding korupsi dan melakukan tindak pidana sodomi.
Mahathir pun mengakui bahwa dirinya yang berperan menjebloskan mantan wakilnya itu ke dalam bui.
Pada pemilu Mei lalu, Anwar dan Mahathir sepakat untuk bersatu melawan Najib. Mahathir, yang ditunjuk sebagai ketua Pakatan Harapan, berjanji akan membebaskan Anwar jika menang pemilu.
Saat itu, Mahathir juga bersumpah akan menyerahkan jabatannya kepada Anwar tak lama setelah pria 71 tahun itu kembali menjadi anggota parlemen Malaysia. (eks/rds/eks)