RI-Oman Akan Rundingkan Lagi Izin Masuk WNI ke Yaman

Tim , CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 22:45 WIB
RI-Oman Akan Rundingkan Lagi Izin Masuk WNI ke Yaman Situasi perang di Yaman membuat Kemenlu mengimbau warga RI untuk tidak melakukan perjalanan ke negara itu. Selain itu Oman juga telah melarang warga asing masuk ke Yaman lewat negaranya. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyatakan pemerintah akan merundingkan kembali prosedur perizinan masuk warga Indonesia ke Yaman bersama otoritas Oman.

Pembahasan itu dilakukan menyusul kasus ratusan WNI yang sempat terjebak di perbatasan Salalah, Oman, selama tiga pekan terakhir lantaran ditolak masuk ke Yaman.

Ratusan WNI yang sebagian besar terdiri dari pelajar itu akhirnya diperbolehkan masuk Yaman setelah mendapat bantuan dari Kedutaan Besar RI untuk Oman di Muscat.


Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bahkan mengutus langsung Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kemlu RI Lalu Muhammad Iqbal ke Salalah kemarin untuk mengurus perizinan para WNI tersebut.

"Izin ini berhasil kita dapatkan hanya untuk mereka yang sudah terlanjur berada di Salalah saat ini. Untuk kedepannya akan kita bahas kembali dengan otoritas Oman," kata Iqbal melalui pernyataan seperti dikutip dari situs Kemlu RI, Kamis (11/10).

Iqbal mengatakan otoritas akhirnya mengizinkan ratusan pelajar RI itu menyebrang ke Yaman setelah Kemlu bersama KBRI di Muscat berkomunikasi dengan pejabat terkait Oman.

Kantor KBRI di Yaman dipindahkan ke Oman dari ibukoa Yaman Sana'a akibat tsituasi perang yang melanda negara itu. (AFP PHOTO / MOHAMMED MAHJOUB)
Padahal, sejak Mei 2018 lalu, Oman telah melarang setiap warga asing untuk masu Yaman melalui perbatasannya. Hal itu diterapkan menyusul situasi Yaman yang terus memburuk menyusul perang sipil yang berkecamuk sejak 2015 lalu.

Iqbal menuturkan pemerintah melalui KBRI juga secara berkala telah mensosialiasikan kebijakan pemerintah Oman tersebut.

Sementara itu, Iqbal mengatakan setelah mendapat izin, para pelajar bergerak dari Salalah menuju perbatasan Oman-Yaman menggunakan empat bus dan didampingi staf KBRI Sana'a di Salalah dan KBRI Muscat.

Sebagian besar pelajar tersebut, ujar Iqbal, hendak pergi menuju Kota Tareem dan sisanya menuju Al Mukalla. Kedua kota itu terletak di Provinsi Hadramaut.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh KBRI Muscat, dia mengatakan total terdapat 178 pelajar, 38 diantaranya adalah wanita dan 1 orang bayi.

Iqbal mengatakan sejak perang sipil pecah di Yaman, pemerintah RI sudah melakukan evakuasi hampir 2.000 pelajar WNI dari negara tersebut. Namun, hingga kini tercatat masih ada 1.000 pelajar lebih yang masih bertahan di Yaman, terutama di Provinsi Hadramaut.

"Sebagian besar dari mereka (pelajar) belajar pada berbagai tingkatan di pesantren dan universitas yang ada di provinsi tersebut," tutur Iqbal.

Pemeriksaan perbatasan ketat

Oman semakin mempeketat perbatasannya setelah perang sipil pecah di Yaman, negara tetangganya di barat daya, sejak Mei 2015 lalu.

Salah satu warga Indonesia yang pernah masuk ke Oman melalui perbatasan Oman, Rosid Maduri, mengalami sendiri ketatnya pemeriksaan di perbatasan.

Kepada CNNIndonesia.com, Rosid bercerita bahwa dia bersama sejumlah kerabatnya mengunjungi keluarga di Hadramaut, Yaman, pada September lalu.

Warga Kota Salalah (AFP PHOTO / MARCUS GEORGE)
Ketika tiba dibandara Salalah, Rosid mengatakan petugas imigrasi sempat menahan dirinya untuk diperiksa selama beberapa jam.

"Paspor kami sempat dipegang otoritas bandara, lalu kami ditanya-tanya terkait tujuan kami ke Salalah apa, tujuan kami mau ke Hadramaut untuk apa," katanya.

Rosid menuturkan petugas bandara juga meminta surat-surat izin perjalanan seperti visa hingga surat rekomendasi dari KBRI.

"Karena surat kami lengkap, visa lengkap, paspor ada, akhirnya kami dibolehkan jalan."

Pemeriksaan, Rosid mengatakan masih berlanjut ketika dia dan sekitar 20 WNI lainnya tiba di perbatasan.

Selain memeriksa suat-surat izin perjalanan, Rosid mengatakan para petugas perbatasan sempat menginterogasi dia dan romobongannya terkait tujuan perjalanan mereka ke Yaman.

"Kami sempat ditanya-tanya terkait situasi di Yaman, kenapa masih mau ke sana. Kami bilang ingin menjenguk saudara di sana. Ya, dengan seluruh pengetahuan yang kami punya karena kami sudah sering keluar-masuk Yaman, akhirnya mereka membolehkan kami lewat," tuturnya.

Meski begitu, salah satu rombongan Rosid ada yang sempat tertahan lantaran tidak memiliki surat rekomendasi dari KBRI.

"Tapi karena izin perjalanan seperti visa dan paspor valid, akhirnya semua diperbolehkan masuk (Yaman)," ujarnya (rds/eks)