AS Akan Perketat Ekspor Teknologi Nuklir Ke China

Tim , CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 13:15 WIB
AS Akan Perketat Ekspor Teknologi Nuklir Ke China Ilustrasi (REUTERS/Pichi Chuang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat akan memperketat ekspor teknologi nuklir untuk kepentingan sipil ke China. Hal ini disebabkan karena AS khawatir China akan menyalahgunakannya untuk keuntungan ekonomi atau dialihkan ke penggunaan militer.

"AS tidak dapat mengabaikan implikasi keamanan nasional dari upaya China untuk mendapatkan teknologi nuklir di luar proses yang telah ditetapkan dari kerjasama nuklir sipil AS-China," kata Menteri Energi AS, Rick Perry dalam sebuah pernyataan yang dilansir AFP, Jumat (12/10).

Pembatasan ini adalah salah satu langkah terbaru AS untuk menekan China. Dibawah kepemimpinan presiden Donald Trump, AS meningkatkan tarif dari China menjadi US$250 miliar (Rp3,7 quadriliun).


Seorang pejabat mengatakan bahwa AS masih mengizinkan ekspor nuklir sipil ke China, namun mereka akan mengawasinya dengan ketat.

Departemen Energi AS menyatakan bahwa pihaknya akan membuat "penyangkalan di awal" untuk lisensi baru yang terkait dengan China General Nuclear Power Corp (CGN), perusahaan milik negara.

Sebab, tahun lalu perusahaan itu didakwa telah melakukan konspirasi untuk mencuri pengetahuan pengembangan nuklir AS yang sensitif tanpa tanpa melalui proses persetujuan yang diperlukan. Konspirasi ini dilakukan bersama dengan seorang warga AS yang sudah dinaturalisasi.

AS pun hati-hati mengawasi ekspor nuklir melalui badan mereka yang disebut Departemen of Energy (DOE) Part 810. Otorisasi itu melakukan verifikasi apakah teknologi nuklir itu digunakan untuk perdamaian dan tidak akan dikirim ke negara lain.

AS Akan Perketat Ekspor Teknologi Nuklir Ke ChinaAS menganggap China bisa menyalahgunakan nuklir yang diekspor dari AS. Untuk itu AS lakukan pengetatan ekspor nuklir terhadap China (REUTERS/Thomas Peter)
"Selama beberapa dekade China terus membuat strategi terpadu yang dijalankan pemerintah pusat untuk memperoleh teknologi nuklir, guna untuk mendapatkan keuntungan ekonomi," kata seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya.

Pejabat itu mengakui bahwa China berlomba untuk memperluas kapasitas energi bersih untuk memenuhi peningkatan permintaan yang penting sebagai pasar ekspor nuklir.

"Kami memahami bahwa industri AS mungkin menderita dalam jangka pendek dari keputusan ini," kata dia.

"Namun, upaya bersama China untuk meniru dan menggantikan produk nuklir AS dapat menyebabkan kerugian permanen pasar global dan pekerjaan domestik dalam jangka panjang," kata dia menambahkan.

Pada 2015 lalu, mantan presiden AS, Barack Obama menandatangani perpanjangan kerjasama nuklir antara AS dan China. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa Beijing bergerak untuk memperketat kontrol sebagai bagian dari pembaharuan.

Hubungan ekonomi antara AS dan China telah memburuk. Presiden AS, Donald Trump bersumpah untuk "menyakiti" perekonomian China dalam perang dagang mereka. (cin/eks)