Wartawan Hilang, Trump Enggan Batasi Pembelian Senjata Saudi

Tim , CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 13:53 WIB
Wartawan Hilang, Trump Enggan Batasi Pembelian Senjata Saudi Ilustrasi (REUTERS/Osman Orsal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut bahwa pihaknya masih enggan untuk membatasi penjualan senjata ke Arab Saudi, Kamis (11/10).

Ia menyebut bahwa pihaknya belum menyiapkan rencana pembatasan senjata terkait hilangnya jurnalis Arab Saudi berkewarganegaraan AS Jamal Khashoggi di Turki.

Meski demikian, ia mengaku mendapat tekanan terkait hal tersebut dari anggota parlemen Amerika yang menaruh perhatian atas hal ini.


Arab Saudi adalah salah satu pembeli senjata terbesar di dunia, dengan sebagian besar pembelian mereka berasal dari Amerika Serikat.

Khashoggi yang saat ini menjadi kontributor di The Washington Post, lenyap lebih dari seminggu yang lalu selama kunjungan ke konsulat Saudi di Istanbul. Sumber pemerintah Turki mengatakan dia dibunuh di sana. Namun, klaim ini ditolak oleh Riyadh.

Trump menegaskan bahwa ia memang menuntut jawaban atas apa yang terjadi pada Khashoggi. Namun, ia tak bisa bisa mengorbankan pekerjaan dan pendapatan yang didapat dari kesepakatan senjata.

"Itu tidak akan bisa diterima," kata Trump di Ruang Oval. "Mereka menghabiskan US$110 miliar (Rp1,6 kuadrilun) untuk peralatan militer dan untuk hal-hal yang menciptakan lapangan kerja."

Orang-orang Saudi akan "mengambil uang itu dan membelanjakannya di Rusia atau Cina atau di tempat lain. Saya pikir ada cara lain. Jika ternyata menjadi seburuk mungkin, pasti ada cara lain untuk menangani situasi."

Trump kembali menyatakan keprihatinannya tentang nasib Khashoggi.

"Kami tidak menyukainya (soal hilangnya wartawan Saudi)," katanya kepada wartawan. "Kami bahkan tidak menyukainya sedikit pun."

Senator AS menulis surat kepada Trump pada hari Rabu untuk menuntut penyelidikan.

Kasus hilangnya Jamal Kashoggi telah menarik perhatian internasional dan sempat menimbulkan gelombang protes (REUTERS/Osman Orsal)
Di bawah Undang-undang Akuntabilitas Hak Asasi Manusia Magnitsky Global, surat semacam itu memaksa Gedung Putih untuk melapor ke Kongres dalam waktu 120 hari dan memutuskan apakah pelanggaran hak asasi manusia benar terjadi dan harus diganjar dengan sanksi apa.

Senator-senator yang menentang keras hal ini, termasuk mereka yang berasal dari Partai Republik Trump mengisyaratkan bahwa penjualan senjata bisa menjadi cara untuk menghukum Riyadh.

"Arab Saudi perlu menyelesaikan masalah ini segera," tutur Senator Republik Cory Gardner kepada wartawan.

"Jelas ada cara ini bisa berakhir sangat buruk, dan itu jika Saudi memang bertanggung jawab untuk ini," lanjutnya. "Penjualan senjata tentu akan menjadi, saya pikir, perhatian besar."

Kongres memiliki kekuatan untuk memblokir sementara kesepakatan senjata besar, dan beberapa senator memberi isyarat bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk melakukannya.

"Saya pikir ada perasaan yang meningkat" bahwa anggota parlemen bersedia untuk memblokir penjualan jika para pejabat Saudi ditemukan telah memainkan peran dalam hilangnya Khashoggi, kata Senat Demokrat Bob Menendez.

"Kami bahkan tidak bisa membiarkan sekutu percaya bahwa mereka memiliki kekuasaan penuh untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan," katanya kepada wartawan.

Senator Republik Rand Paul, seorang pengkritik kuat kerajaan, mengatakan Trump harus "segera" menghentikan penjualan senjata.

Pemblokiran pembelian senjata Arab Saudi oleh AS dinilai akan memukul negara itu atas hilangnya wartawan di Turki yang diduga dibunuh di Konsulat Arab Saudi (U.S. Marine Corps/Lance Cpl. Cutler Brice/Handout via REUTERS)
Paul dan yang lain berpendapat bahwa Arab Saudi menggunakan sistem dan senjata berteknologi tinggi AS untuk melakukan kekejaman perang di Yaman, termasuk membunuh warga sipil.

Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Bob Corker mengatakan bahwa selama periode peninjauan 120-hari, administrasi Trump "akan berada di bawah tekanan besar. Jika pemerintah AS memutuskan bahwa Arab Saudi benar terlibat, maka mereka mesti segera memberikan sanksi sangat berat kepada orang-orang yang telah terlibat dalam hal ini."

Trump, yang berbicara sebelumnya dengan Fox News, mengatakan bahwa situasi Khashoggi menandai "preseden mengerikan. Kami tidak bisa membiarkannya terjadi. Dan kami sangat keras dan kami memiliki penyidik di sana."

Khashoggi mengkritik Putra Mahkota Muhammad bin Salman dalam tulisan-tulisannya. The Washington Post melaporkan bahwa Pangeran Mohammed bin Salman telah memerintahkan operasi untuk "memancing" jurnalis itu agar kembali ke rumah. Namun sepertinya operasi ini tidak berjalan semestinya di Istanbul.

Pembelian senjata Arab Saudi dari AS sebesar US$ 110 miliar merupakan hasil perjanjian tahun lalu sebelum perjalanan luar negeri pertama Trump ke Arab Saudi. Sebagian besar komponen pembelian paket senjata ini sebenarnya telah dikirim dalam beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya. (eks/eks)