Salah satu yang dipertaruhkan adalah relasi politik dan bisnis antara Negeri Paman Sam dan Riyadh.
Salah satu peneliti Lowy Institute, Rodger Shanahan mengatakan kepada Business Insider bahwa AS disebut bisa kehilangan triliunan dolar investasi dan kerja sama perdagangan jika berani "mengusik" Saudi terkait kasus Khashoggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak Trump menjabat di Gedung Putih, relasi AS dan Saudi disebut kian menghangat. Tahun lalu, Riyadh dan Washington menyepakati perjanjian kerja sama senilai lebih dari US$55 miliar (setara Rp835 triliun) bersama sejumlah perusahaan pertahanan, industri manufaktur, serta perusahaan minyak dan gas AS.
Kerja sama multi-miliaran dolar itu disepakati untuk membantu Saudi mencapai visi misi modernisasi dan diversifikasi ekonominya pada 2030 mendatang.
Saudi diperkirakan akan mengutak-atik kesepakatan itu jika AS berani menjatuhkan sanksi terkait Khashoggi. Dikutip Agen Pers Saudi (SPA), seorang pejabat senior Saudi mengatakan "kerajaan akan membalas dengan tindakan yang lebih hebat jika menerima tindakan apa pun, dan perekonomian Kerajaan memiliki peran besar dan vital dalam perekonomian global."
Selain itu, sanksi AS kepada Saudi juga disebut bisa mengancam kesepakatan jual-beli senjata antara kedua negara yang bernilai hampir US$110 miliar (Rp1,6 kuadriliun). Dikutip CNN, Trump menganggap kesepakatan itu merupakan "investasi yang sangat dahsyat bagi AS."
Mengancam Bisnis Pribadi
Tak hanya bisnis antara kedua negara, Trump disebut enggan menindak keras Saudi lantaran hubungan bisnis yang cukup dekat dengan negara tersebut.
Laporan sejumlah senator AS baru-baru ini mengungkap bahwa Trump pernah pernah terlibat transaksi senilai US$325 juta (Rp4,8 triliun) dengan keluarga kerajaan terkait penjualan salah satu propertinya di New York pada 1995.
Dikutip Time, properti itu dijual untuk membayar utang bisnis Trump.
Pada 2001, Trump juga dilaporkan menjual Trump World Towernya kepada Saudi senilai US$12 juta. Saat kampanye pemilihan presiden 2016 lalu, Trump juga mendaftarkan setidaknya delapan perusahaan Saudi sebagai salah satu donornya.
Menanggapi tudingan melindungi Saudi dalam kasus Khashoggi, Trump pada Selasa (16/10) lalu membantah bahwa dirinya memiliki kepentingan finansial dengan Saudi melalui kicauannya di Twitter.
[Gambas:Twitter]
Selain Trump, menantu sekaligus penasihat pribadinya Jared Kushner juga memiliki kedekatan dengan Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman.
Kasus Khashoggi menyorot perhatian dunia setelah koresponden The Washington Post itu dinyatakan hilang pada 2 Oktober lalu. Dia tidak pernah terlihat lagi setelah memasuki gedung konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu untuk mengurus dokumen pernikahan.
Otoritas Turki meyakini bahwa Saudi telah membunuh koresponden The Washington Post itu di dalam gedung konsulat. Riyadh berkeras membantah seluruh tudingan dan menyebut bahwa Khashoggi telah keluar dari gedung konsulat dengan selamat.
Pernyataan itu diutarakan Trump tak lama setelah dirinya berkomunikasi dengan Raja Salman via telepon mendiskusikan masalah tersebut.
Sebelum komunikasi itu berlangsung, Trump mengancam akan menerapkan "hukuman berat" jika Saudi terbukti membunuh Khashoggi. (rds/eks)