Selain masalah pelanggaran Rusia, sebelumnya Trump juga menyebut bahwa keluarnya AS dari perjanjian ini karena meningkatnya kegiatan nuklir China. Selain itu AS juga menganggap China juga belum masuk dalam perjanjian nuklir itu.
Pada Selasa (23/10), Bolton juga diperkirakan akan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin dan menyiratkan bahwa Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) selama tiga dekade tidak dapat diselamatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
INF ditandatangani oleh Presiden AS Ronald Reagan dan Mikhail Gorbchev pada 1987. INF menyelesaikan krisis atas rudal balistik Soviet yang diarahkan ke ibu kota negara Barat.
Seorang juru bicara mengatakan kepada AFP bahwa pada Senin (22/10), Bolton membahas nasib perjanjian ini dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dan menghabiskan waktu hampir lima jam dalam pembicaraannya dengan Kepala Dewan Keamanan Rusia, Nikolai Patrushev.
Berbicara setelah pertemuannya dengan Patrushev, Bolton mengatakan bahwa pihak Rusia bersikeras mereka tidak melanggar perjanjian itu.
"Anda tidak dapat membuat seseorang menjadi patuh yang mereka sendiri tidak berpikir jika mereka melanggar. Kami tidak berpikir bahwa penarikan dari perjanjian itu yang menyebabkan masalah. Kami pikir yang dilakukan Rusia karena melanggar perjanjian, itulah masalahnya," kata dia menambahkan.
Bolton mengatakan bahwa Washington tidak ingin menjadi satu-satunya negara yang terikat oleh perjanjian itu dan menyebut ancaman yang nyata dari China.
Sebelumnya Rusia menyebut bahwa keluarnya AS dari perjanjian akan menjadi ancaman bagi keamanan global. Rusia juga mengancam balik bahwa pihaknya akan menyeimbangkan langkah AS jika negara itu mengembangkan sistem rudal baru. China dan Uni Eropa juga menyampaikan keprihatinannya atas putusan AS itu. (cin/eks)