Terpidana Penistaan Agama Bebas, Warga Pakistan Demo Besar

CNN Indonesia | Kamis, 01/11/2018 20:12 WIB
Terpidana Penistaan Agama Bebas, Warga Pakistan Demo Besar Demonstrasi umat Islam di Pakistan. (REUTERS/Fayaz Aziz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan umat Islam turun ke jalanan Ibu Kota Karachi dan sejumlah kota besar lain di Pakistan, memprotes keputusan Mahkamah Agung yang membebaskan Asia Bibi, terpidana penistaan agama yang telah divonis hukuman mati.

Kelompok demonstran menutup sekita 10 jalanan utama di selatan Karachi dan bagian timur Kota Lahore, di hari kedua unjuk rasa, Kamis (1/11). Stasiun televisi Geo TV dan sejumlah media lokal lainnya melaporkan sekolah-sekolah swasta di kedua kota juga diliburkan.

Sementara itu, setidaknya 200 pemrotes dari Partai Tehreek-e-Labaik (TLP) memblokade dua jalan utama di pusat Karachi. Saksi mata Reuters melaporkan ratusan pengunjuk rasa itu memblokade jalan dengan duduk di tengah tenda sambil mendengarkan pidato.


Dalam salah satu pidato, juru bicara TLP mendesak para pengunjuk rasa kembali menyalakan api jika polisi memadamkan ban-ban dan benda lain yang sengaja dibakar mereka.

Seorang pemimpin senior TLP bahkan menyarankan warga membunuh Ketua MA, Hakim Agung Saqib Nisar, dan dua hakim lainnya yang mendukung pembebasan Bibi.

"Mereka bertiga layak dibunuh," ucap pendiri TLP, Muhammad Afzal Qadri di Lahore.

"Ajudan mereka, sopir mereka, atau bahkan juru masak mereka harus membunuh ketiga orang itu," tegasnya.

Qadri juga menyerukan penggulingan pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan dan mendesak perwira militer bangkit melawan panglima angkatan bersenjata, Jenderal Qamar Javed Bajwa.

Menanggapi aksi demo, Khan memperingatkan para pengunjuk rasa bahwa pemerintah akan bertindak menghentikan hal itu.

"Kami tidak akan membiarkan kerusakan apa pun terjadi. Kami tidak akan mengizinkan lalu lintas diblokir," kata Khan dalam siaran televisi nasional.

"Saya mengimbau Anda semua jangan memaksakan negara untuk mengambil tindakan sejauh itu."

Bibi merupakan terpidana penista agama yang telah menjalani hukumannya sejak 2010 lalu. Ibu dari empat anak itu merupakan perempuan pertama yang divonis hukuman mati berdasarkan undang-undang penista agama di Pakistan.

Bibi, yang merupakan pemeluk agama Kristen, dituduh membuat pernyataan yang menghina agama Islam setelah tetangganya keberatan Bibi minum dari gelas mereka karena dia beragama non-Muslim. Namun, MA menganggap bukti tersebut tidak cukup.

Kasus ini telah memecah belah warga Pakistan, di mana dua politikus yang berupaya membantu Bibi tewas dibunuh. Hal tersebut memicu kecaman dari umat Kristen seluruh dunia.

Paus Fransiskus bahkan secara pribadi mengatakan dia berdoa untuk Bibi.

Kini, keberadaan Bibi dan keluarganya belum jelas. Selama delapan tahun Bibi ditahan, keluarga perempuan itu hidup di Pakistan secara sembunyi-sembunyi.

Sejumlah spekulasi berkembang Bibi dan keluarganya akan meninggalkan negara di Asia Selatan itu. (rds/ayp)