"Tidak menutup kemungkinan isu itu diangkat. Tentu isu utama yang jadi perhatian soal kerja sama ekonomi," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, di gedung Kemlu, Jakarta, Jumat (9/11).
"Ini bisa dibayangkan seberapa padatnya agenda bapak presiden. Di sela-sela pertemuan itu, memang dicarikan waktu untuk melakukan beberapa pertemuan bilateral," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia menentang keras pernyataan tersebut. Menlu Retno Marsudi sudah meminta penjelasan mengenai sikap tersebut dengan memanggil Duta Besar Australia, Gary Quinlan, ke kantornya sebanyak dua kali.
Beberapa pengamat menyatakan kekhawatirannya terhadap Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komperhensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) yang berpotensi akan terpangaruh oleh rencana itu. (pris/has)