"Protes diadakan di luar bandara dan polisi mengatakan bahwa kami tidak bisa keluar sekarang," kata seorang aktivis, Trupti Desai, kepada Reuters.
"Kami memesan taksi sekitar tiga atau empat kali, tetapi pengemudi mengatakan bahwa para demonstran mengancam akan merusak kendaraan mereka jika memberikan kami tumpangan."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak akan kembali sampai kami melihat darshan (gambar dewa). Pelecehan dan fanatisme semacam ini tidak bisa diterima," katanya.
Aksi unjuk rasa mulai tersebar luas setelah Mahkamah Agung memerintahkan pemerintah untuk mencabut larangan terhadap perempuan berusia antara 10 hingga 50 tahun memasuki kuil hindu pada September lalu.
Petugas kepolisian sudah berusaha membawa kelompok aktivis perempuan itu keluar melalui gerbang kargo, tapi para demonstran menggagalkan upaya itu.
"Kami tidak akan membiarkan para aktivis masuk ke dalam Sabarimala. Kami bersedia untuk mati memprotes, tetapi tidak akan bergerak satu inci pun dari sini," kata seorang demonstran kepada saluran televisi CNN News18.
Sejak larangan itu dicabut, pengadilan mendengar dan menerima hampir 50 petisi untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu.
Pada Kamis (15/11), pertemuan antara Menteri Kepala Kerala, Pinarayi Vijayan, dengan pengurus kuil juga tak bisa menyelesaikan kebuntuan itu.
Vijayan mengatakan bahwa pemerintahannya menghormati perasaan para umat, tapi mereka harus mematuhi pengadilan. (cin/has)