Penganiayaan Kelompok Transgender di Seluruh Dunia Meningkat

CNN Indonesia | Selasa, 20/11/2018 20:23 WIB
Penganiayaan Kelompok Transgender di Seluruh Dunia Meningkat Ilustrasi penganiayaan berujung pembunuhan. (Foto: Istockphoto/joebelanger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rentetan kekerasan yang dialami oleh kelompok transgender di seluruh dunia, membuat banyak aktivis menyuarakan untuk meningkatkan kesadaran di hari peringatan tahunan bagi para korban.

Para aktivis telah mengidentifikasi 369 laporan kelompok transgender yang tewas dalam 12 bulan terakhir. Namun menurut mereka jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

"Kelompok transgender adalah korban kebencian yang mengerikan, termasuk pemerasan, serangan fisik dan seksual serta pembunuhan," kata Lukas Berredo, juru bicara untuk proyek Trans Murder Monitoring (TMM), seperti yang dikutip dari Reuters, Selasa (20/11).



Berredo telah mengumpulkan data-data mengenai fakta pembunuhan oleh kelompok "transphobic" atau kelompok yang 'alergi' terhaap kolompok transgender. Menurutnya ada delapan fakta yang berhasil ia kumpulkan, terkait penganiayaan terhadap kelompok transgender.

Pertama, ia melanjutkan, hampir tiga ribu kelompok transgender dibunuh selama satu dekade terakhir di seluruh dunia. Penyebab kematian yang paling banyak adalah penembakan, penusukan, dan pemukulan.

Kemudian, setidaknya 369 kelompok transgender tewas dalam 12 bulan terakhir. Selanjutnya adalah jumlah kelompok transgender yang dilaporkan dibunuh setiap tahun oleh Trans Murder Monitoring (TMM) terus meningkat, dari 148 orang sejak 2008 menjadi 358 orang tahun lalu.

Brazil adalah negara paling berbahaya untuk kelompok transgender, kurang lebih 167 orang terbunuh dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, di Meksiko terdapat 71 pembunuhan dan Amerika Serikat 28 orang terbunuh.

Selanjutnya ada hampir dua pertiga dari korban pembunuhan yang dilaporkan selama dekade terakhir adalah pekerja seks.


Sementara itu di Amerika Serikat, ada lebih dari tiga perempat kelompok transgender perempuan dari etnis minoritas dibunuh tahun ini dan hampir dua pertiganya berusia di bawah 35 tahun.

Kemudian di Prancis, Italia, Portugal dan Spanyol, sekitar 65% korban pembunuhan dilaporkan dalam satu dekade terakhir adalah para imigran.

Hampir tiga perempat korban pembunuhan transgender di AS, teridentifikasi melalui gender mereka sebelumnya dalam laporan kepolisian atau media. Hal ini membuat seorang aktivis geram, karena menurutnya hal itu tidak sopan.

(din/agr)