"Meskipun saya menginginkan perdamaian seperti orang kebanyakan, saya hanya tetap ingin realistis, dan saya tahu di masa sekarang tidak mungkin," ucap Shaked dalam sebuah konferensi yang digelar surat kabar Jerusalem Post pada Rabu (21/11).
Shaked menganggap inisiatif Trump itu tetap hanya akan membuang-buang waktu karena perbedaan antara Israel dan Palestina terlalu besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shaked dan sebagian besar anggota Jewish Home secara terbuka mengungkapkan penolakan mereka atas solusi dua negara dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel.
Solusi tersebut menyepakati bahwa Israel dan Palestina bisa berdiri sebagai negara yang memiliki wilayah kedaulatan masing-masing dan hidup secara berdampingan dengan damai.
Kota suci bagi tiga agama itu telah lama menjadi salah satu sumber konflik Israel-Palestina, di mana kedua belah pihak sama-sama mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota mereka nantinya.
Meski pesimistis, Shaked mengatakan ia tetap terbuka dengan inisiatif damai yang digagas Washington.
"Tapi mari kita tunggu dan lihat apa yang akan mereka (AS) tawarkan," katanya.
Pernyataan itu diutarakan Trump saat bertemu dengan Netanyahu di sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, akhir September lalu.
Namun, pejabat AS untuk urusan perdamaian Timur Tengah, Jason Greenblatt, mengatakan dokumen resolusi perdamaian yang tengah disusun itu akan "sangat berfokus" pada keamanan Israel.
Meski begitu, Greenblatt memastikan bahwa AS tetap memperhatikan "kekhawatiran" Palestina dalam rencana perdamaian itu. (rds/has)